I Love Pesantren

Aku sekarang kelas 3 SMP, sebentar lagi aku akan lulus, ayah dan ibuku berencana akan memasukkanku ke pesantren. “Anakku, ayah dan ibu telah menemukan sekolah yang bagus untukmu” , kata ibu dengan nada merayu.
“Dimana,Bu?I Love Pesantren
Besok kita kesitu yuk, “? Ku mengajak ibuku karna tidak sabar melihatnya.
“Dengar,dulu,pasti ayah dan ibumu akan mengajakmu mengungsi sekolah barumu itu”
, jawab ibu sambil senyum-senyum penuh rahasia.
“Ayolah Bu, katakana dimana nanti aku akan meneruskan sekolah ?” rayuku semakin
penasaran .
“Kamu akan masuk pesantren ” jawab ibu , ibu sudah tahu betul bahwa kamu tidak mau
masuk pesantren. Mendengar rencana itu, aku gundah bukan kepalang.
“Masuk pesantren ? Oh ….. No ! “ teriakku didalam hati, tapi apadaya aku tidak dapat
membantah keputusan ayah dan ibuku ,apalagi ayah telah mencari pesantren yang
bagus untuk menyekolahkanku.
“Bu…..apa enggak ada sekolah yang lain ?” tanyaku memelas . ibu hanya menggelengkan
kepala.
Pada hari yang sudah di tentukan oleh ayah aku diajak berkunjung keponpes yang akan
menjadi sekolahku nanti. Pagi-pagi aku sudah di bangunkan ibuku agar
bersiap-siap. “Anakku…….Bangun !”
“Ah, nanti saja, Bu. Hari ini kan libur. Jadi aku bangun agak siang aja” jawabku
tanpa membuka mata . “Jangan buang-buang waktu,Mubadzir .kata ibu, sedikit
marah. Aku tidak berani membantah lagi pada ibu. Dengan terpaksa aku pun
bangun,walau sambil menggerutu aku berlama-lama di kamar mandi. Beberapa kali
ibuku mengetuk pintu kamar mandi. “Ayo, nak,cepat keluar ! gentian sama yang
lain.”
“Yah, aku gak mau masuk pesantren , aku enggak mau pisah jauh sama ibu dan ayah,
boleh kan , yah ?” rengek dengan wajah yang hamper menangis.”  Apa ayah dan ibu enggak sayang lagi sama aku
?”. Justru karena ayah dan ibu sayang padamu,makanya kami memilih pesantren
yang bagus untukmu.” Jawab ayah dengan tegas. “Tapi….nanti aku sendirian
disana.” Disana nanti kamu pasti mendapat banyak teman. Percayalah , kamu
enggak akan sendiri dan tidak akan kesepian.” Kata ibu.
Setelah semuanya siap, mereka pun berangkat menuju pesantren yang dipilih oleh ibu dan
ayahku. Perjalanan yang kami tempuh cukup dekat ,memerlukan waktu 1 jam ½ .
Saat tiba dipintu gerbang pesantren,hatiku pun berdebar-debay. Aku pun melihat
pesantren dengan jelas. Aku pun bergegas menuju asrama pesantren pilihan
ayahku. Satu kamar yang berisikan kira-kira 60 orang. Hatiku bertanya.
“Cukupkah kamar sekecil ini ditempati dan dibuat tidur anak-anak sebanyak ini”.
Dan aku berkata lagi kepada ayahku, “yah…??? Pokoknya aku enggak mau sekolah
disini” kamu harus sekolah disini.” Jawab ayah tanpa kompromi. “ Tapi…yah .”
ucapku dengan nada takut. “Enggak ada tapi-tapian ,” potong ayah tegas. “
Iya…betul kata ayah. Kamu harus belajar disini agar kamu menjadi wanita
sholeha.” Kakak ikut-ikutan menegaskan .
“Memang apa sih , kekuranganku kak ?” tanyaku. Iya , memang tidak ada yang kurang dek ?
tapi ini adalah jalan yang terbaik buat kamu. Jawab kakak dengan pasti.
Untuk mengobati kegelisahanku. Aku mengisi waktu liburku dengan membeli barang-barang
yang akan di bawanya nanti. Andai bisa….aku ingin mengangkut semua
barang-barang yang ada di kamarku untuk di pindahkan kepesantren, Tv, handphone
,kasur empuk,sepeda motor,computer ,lemari pakaian …pokonya semuanya , tapi
sayang, semua tidak bisa di bawa, hanya barang-barang yang penting saja. Bagiku
Tv,computer dan handphone penting,tetapi bagi pesantren tidak penting
,kenapa???
Tibalah saatnya aku harus memulai kehidupan baru di pesantren. Aku hanya membawa
barang-barang sesuai dengan peraturan pesantren. Bapak,ibu, dan kakak ku
mengantarkan kepesantren dengan perasaan duka. Aku menempuh perjalanan menuju
pesantren yang akan menjadi tempat tinggal-ku nanti. Detik-detik perpisahan
dengan ayah dan ibu semakin dekat.
Hatiku semakin sedih.
“anakku, ??? Baik-baik  ya ,nak, disini,” kata ibu
sambil memeluk ku dengan erat. Ayah yakin kamu pasti bisa lebih mandiri disini,
“ayah member semangat kepadaku sambil membelai sayang rambut lurusku, “Doakan
aku ya , yah , buk”. Pintaku dengan mata berkaca-kaca, ayah ,ibu dan kakak
memelukku. Dan menciumku sebagai tanda perpisahan. Aku menangis dan melambaikan
tangan di ruang tunggu.
Hari pertama sampai satu bulan pertama aku masih senang  menyendiri dan menangis diam-diam di waktu
malam aku belum punya teman yang cocok untuk berbagi.
Di malam itu aku tidak bisa tidur,lampu di kamar tetap menyala, namun aku masih
memikirkan ayah dan ibuku, “ayah dan ibu sedang apa yaaa??? Kangen enggak ya
mereka sama aku ?” air mata mulai menetes dipipiku,aku hanya bisa berdiam diri
di kegelapan malam.
Dua bulan sudah berlalu , ayah dan ibu mengirimku pas mau lebaran id. Diluar dugaan
ayah dan ibu aku malah menangis dan memohon kepada ibuku.  Yah , aku mau lebaran dirumah,aku mau lebaran
bersama ayah ,ibu,kakak ,adek,kakek,nenek dan teman-teman di rumah . please…aku
mohon yah. “ pintaku dengan nada sedih. Jangan gitu sayang , ibu sayang sama
kamu,tapi peraturannya disini gak boleh pulang”. Kata ibu. Aku sudah betah
disini buk,yah aku gak pengen pindah dari sini, tapi aku pengen pulang sebentar
saja. “ucapku dengan cemberut merayu ibu”. “apa ayah  bilang,kamu pasti betah dan tidak akan
menyesal masuk pesantren ini” kata ayah. Bagaimana yah,bu, boleh kan ??? tidak
sayang kamu tetap saja disini ,ayah,ibu dan kakak adikmu pasti kesini lebaran .
ayah janji sama kamu.
“Ya, yah “ucapku dengan nada terpaksa”. Aku hanya bisa tersenyum senang dipelukan
ayah dan ibu “Terima kasih, Bu, Terima kasih yah, sekarang aku sudah betah
disini. “ I LOVE PESANTREN ” kataku bangga dan bahagia. Ayah dan ibu semakin
erat memeluk ku.

 

“ I LOVE  PESANTREN ”
 By: Heniiey Muchiiey 47 kaliboto xi c

3 Comments

  1. lukman vega December 18, 2014
  2. Abdul Kodir Wijaya Kusumah February 2, 2015

Leave a Reply