Everything Will be Beauty in the ‘Pesantren’ Time

Everything Will be Beauty in the ' pesantren ' time

Everything Will be Beauty in the ‘ pesantren ‘ time

Pesantren: Setiap orang tua mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Kelelahan mengandung, bekerja, merawat, dan mendidik mereka lakukan dengan tersenyum dan penuh keikhlasan.

Mulailah episode perjuangan-perjuangan kecilku, saat ayah dan ibuku memintaku melanjutkan pendidikan di pesantren. Hati iba dan sedih harus aku abaikan. Namun, semua itu harus aku jalankan sebagai wujud balasan dariku atas perjuangan ayah dan ibu selama ini. Siang malam ayah mencari nafkah membanting tulang demi kelangsungan pendidikanku. Mereka berharap agar pendidikanku lebih tinggi dari mereka, sehingga peluang sukses terbuka lebar untukku.
Ayahku berkata kepadaku “ayah dan ibu rela, nak, walaupun kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki, agar pendidikanmu lebih tinggi, walaupun ditempuhnya dalam pesantren”. Hatiku pun tersentuh dengan semua yang ayah harapkan kepadaku. Air mataku pun tak kuasa kubendung.
“ayah, bila ini yang terbaik untuk aku, ayah, dan ibu, insyaallah aku wujudkan mimpi-mimpi ayah. Aku tahu, menjadi santri itu berat, terpisah dari ayah dan ibu, tapi aku akan menjalaninya”. Jawabku.
“nak…, doa ayah dan ibu selalu menyertaimu. Raihlah apa yang menjadi cita-citamu, dan kerjakanlah apa yang ingin kamu kerjakan. Jadiah yang terbaik agar kesuksesan dekat kepadamu”. Jelas ayahku.
“terima kasih, ayah, dengan keterbatasan yang ada padaku, aku tetap yakin bisa menggapai impian pelangiku”.
Aku berlari dan tergeletak dilantai penuh kesedihan, meratap menjadi-jadi, memikirkan masa depan yang akan aku mulai di pesantren. Mataku hingga bengkak sebab menangis. Harus memulai tantangan baruku hidup di pesantren.
“sudah siapkah engkau, nak…?”. kata ibuku.
“injih, bu”…..”dukung aku, ya, bu, mewujudkan keinginan ibu dan ayah, mungkin dengan ini aku bisa membalas jasa-jasa ibu dan ayah”. Sambungku.
“jangan kau khawatirkan ibu dan ayahmu…, kami selalu mendukung niat baikmu. Lakukanlah yang terbaik agar ayah dan ibu lebih bangga kepadamu”. Jawab ibu sambil mencium keningku.
Dengan langkah agak berat, aku berangkat ke pesantren bersama ayah dan ibu. Sekitar tiga puluh menit, kami sudah sampai di pintu gerbang pesantren pilihan ayah dan ibu yang satu kota dengan rumahku. Fatihul Ulum. Dengan berat pula aku harus melepaskan kenangan-kenangan indah sewaktu bersama berkumpul dirumah. Menghapus kenangan dengan teman-teman sewaktu belajar di sekolah. Kini, ibuku sudah mendaftarkanku ke pengurus pesantren. Setelah semua proses pendaftaran selesai, ayah dan ibuku berpamitan pulang.
“nak…, maafkan ayah, ya. Ini semua harapan ayah kepadamu. Jika ada tantangan, hadapilah dengan sabar. Ayah berharap, kelak engkau menjadi pejuang bangsa yang berhasil. Buktikan bahwa engkau bisa”. Harapan ayah kepadaku.
Aku menyadari bahwa apa yang ayah lakukan ini semata-mata untuk kebaikanku juga. Ayah khawatir, jika aku belajar diluar pesantren akan terpengaruh oleh pergaulan yang bebas. Ayah dan ibu melangkah pulang. Air mataku tak mampu kutahan. Pikiranku tidak karuan. Sudah seminggu aku hidup dalam pesantren. Situasi dan kondisi baik-baik saja. Kudapati semua temanku perhatian dan baik padaku. Minggu kedua aku mendapati situasi yang tidak seperti biasanya. Sikap baik dan perhatian beberapa temanku mulai luntur. Bahkan, beberapa kalimat tidak enak didengar mulai sering terucap. Aku tidak mengerti apa salahku.
Aku teringat pesan ayah bahwa, aku harus menghadapi tantangan dengan sabar. Aku harus bertahan dan terus melangkah kedepan. Aku mulai rajin berdoa agar mampu melalui semua ini. Aku mengabaikan perbuatan mereka. Aku yakin Allah akan selalu membantuku dalam setiap langkahku. Semua pesan penyemangat dari ayah rasanya terus terdengar:
“belajar…, belajar…, dan belajar. Abaikan hal-hal yang mengganggumu. Sholatlah yang rajin agar Allah selalu menolongmu, buatlah ayah dan ibumu tersenyum bangga kepadamu”.

Pesan penyemangat dari ayah itulah yang membuatku mampu bertahan di pesantren, sehingga aku selalu berpikir kedepan harus semakin baik. Aku harus mampu membalas jerih payah ayah dan ibu dalam membesarkanku dengan cara menyelesaikan pendidikanku.

Baca Juga:  Story-Story di Pondok Pesantren

By: Santriwati Fatihul Ulum

Leave a Reply