Story of Pesantren

Story of pesantren

Dalam Story of pesantren :
“tasya … !, ayo bangun !, sudah jam 04:00 waktunya sholat shubuh”. Seru ibuku sambil mengguncang tubuhku.

“baik, bu”. Sahutku sambil menguap. Lalu ibu keluar dari kamarku.

Aku beranjak dari kamar tidurku, lalu mandi. Wajah dan sebagian bujuku basah kena air wudlu’. Setelah aku keringkan mukaku dengan handuk, akupun melaksanakan sholat shubuh. Seperti biasa, habis sholat shubuh aku berlari menuju meja makan. Kebiasaanku memang makan pagi-pagi sekali.
“tasya…!, ayo makan. Ibu sudah buatkan makanan kesukaanmu, lho”. Kata ibu. “makasih, bu”. Sahutku. Ternyata ibu telah membuatkanku spageti dan fuyunghai. Dua-duanya memang makanan yang aku favoritkan. Setelah membaca doa mau makan, akupun menyantap makanan itu dengan lahap. Mungkin ibuku melihatku makan terlalu bernafsu.
“sayang…!, pelan-pelan saja makannya. Kalau makan kecepetan kaya gitu, bisa sakit, lho, perutnya”. Tegur ibu. Akupun memelankan dan menikmati makanku. “hmm, it’s so delecius”. Komentarku atas masakan ibu, pagi itu.
Selesai makan aku berbaring ditempat tidur. Perasaan ngantukku datang lagi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetok pintu kamarku. Ternyata dia adalah ibuku.
“besok, kamu akan diberangkatkan ke pesantren”. Kata ibu.
“pesantre…n ?”. “iya, kamu mau apa nggak?”.
Tanya ibu.
“aku apa kata ibu. Kalau ibu, ya, aku juga ,
ya”. Jawabku.
“baiklah, ayo sekarang kita siapkan barang-barangmu”. Ibuku menyiapkan semua keperluan mondokku. Mulai dari tas, baju, jilbab, sampai buku dan alat tulis. Setelah semua barang disiapkan, lalu dimasukkan kedalam koper.
Pada hari yang ditentukan, akupun berangkat ke pesantren tujuanku menuntut ilmu. Sebuah pesantren yang terhitung baru yang ada di wilayah Lumajang, “AL-FAUZAN”, nama pesantren itu. Katanya di pesantren ini
menggunakan model pembelajaran ‘tartili’, sebuah metode cepat bisa baca kitab kuning.
Sesampainya di pesantren Al Fauzan, ibu mendaftarkanku di ruang pendaftaran murid baru. Ibu mengisi formulir pendaftaran. Sesaat kemudian setelah administrasi pendaftaran selesai, aku dan ibu diajak berkeliling area pesantren. “di pesantren ini satu bilik hanya boleh diisi 35 santri”. Jelas petugas pesantren itu pada kami. “disini kamar mandi umum untuk para santri, bu…!”. lanjut petugas tadi.
Ibu memilihkan satu kamar untukku. Setelah semua dirasa selesai, perpisahan ayah dan ibu denganku pun harus terjadi. Ibu berpesan “jangan suka melanggaran peraturan, ya, sayang”. “iya, insyaallah, ibu”. Jawabku. Mereka pun pulang meninggalkan aku.
Waktu berjalan begitu cepat. Kini aku harus menjalani malam pertamaku di pesantren. Aku kesulitan memejamkan mata. Aku tidak bisa tidur. Aku memikirkan ayah dan ibuku. Hingga ada seorang santri penjaga yang menemaniku. “Eh…, dik, kamu belum tidur, ya ?”. “belum, kak, aku ingat terus ke ayah dan ibuku. Kakak betah disini?”. Jawabku diteruskan dengan balik bertanya. “enggak betah juga, sih”. Jawabnya.
Akhirnya kami saling kenalan. Dia namanya Mila. Kami berbincang agak lama. Hingga sampai pada pembicaraan bagaimana caranya agar betah di pesantren. Walaupun kak Mila sendiri tidak betah, tetapi dia bisa menjelaskan caranya ‘bertahan’ di pesantren agar bisa menyelesaikan pendidikan.
“pertama: kamu harus berteman dengan teman yang ceria yang suka bercerita. Teman yang ceria bisa membuatmu ceria dan betah disini. Jangan berteman dengan yang suka murung dan banyak diamnya, karena teman macam itu bisa membuatmu murung dan bete”. Jelas kak Mila.
“kedua apa, kak ?”. kataku penasaran.
“laksanakan yang itu saja dulu”. Kata kak Mila. “sekarang kamu harus tidur
dulu, ini sudah jam berapa”. “baiklah, kak Mila!, aku akan tidur dulu”.
Jawabku. Aku berusaha untuk memejamkan mata dan tertidur.
Karena kepayahan, aku tidur lelap sekali.
Hingga pada waktu hampir shubuh, aku mendengar suara bel yang nyaring sekali, yang memekakkan telinga. Aku terkejut dan bangun dari tidur lelapku. Aku beranjak dari kamarku menuju kamar mandi umum. Kemudian aku sholat shubuh berjamaah dengan santri lainnya.
Hari demi hari aku lewati dengan tugas yang diberikan kak Mila kepadaku. Aku pun sudah menemukan teman yang ceria; Jessica dan Vina. Aku merasa hidup di pesantren lebih bahagia dari kehidupanku sebelumnya.
“yang kedua: sering-seringlah membaca dan menulis, karena kamu akan bertambah wawasannya dan terhibur”. Lanjut kak Mila, untuk tips yang kedua. “yang ketiga: seringlah sholat sunnah, jangan
lupa kepada Allah”. Semua tips yang diberikannya benar-benar telah membuatku betah di pesantren.
Sekarang kak Mila telah tiada, karena kanker darah yang ganas. Tinggal kenangan yang tersisa yang tertulis di buku diary yang ku simpan. Sekarang aku hidup bahagia di pesantren bersama sahabatku; Jesica dan Vina. Aku sekarang sudah bisa mandiri menjalani kehidupanku di pesantren.
Terima kasih, Tuhan…..!
By. Hanifah Afkarina.

Digubah oleh: S.

Leave a Reply