Ini Masih Awal Perjuangan Pendidikan!

Ini masih awal perjuangan pendidikan !

Entah apa yang menjadi sebab utama, beberapa kali saya menerima para pencari ilmu dihantar oleh orang tuanya, hanya ingin bertanya; apakah di Pendidikan Fatihul Ulum santri putra tidak boleh keluar? Munculnya pertanyaan seperti ini dari masyarakat, mungkin, ingin membuktikan kebenaran keberadaan sebuah pondok pesantren di dekat Yonif 515 ini, sebagai pondok pesantren yang menerapkan disiplin standar.

Tren di masyarakat, tambah hari, rupanya mereka sudah mulai kurang percaya kepada lembaga pendidikan yang menerapkan model “datang-pulang”. Masyarakat lebih memercayakan putra-putrinya dibina pada lembaga pendidikan model mukim, seperti pondok pesantren. Lebih meruncing lagi, rupa-rupanya masyarakat lebih percaya kepada pondok pesantren yang menerapkan disiplin standar.

Tren ini merupakan kondisi yang baik bagi keselamatan generasi muda bangsa. Kondisi yang menguntungkan bagi kemajuan pondok pesantren secara nasional, walaupun kurang dinilai baik oleh sekolah-sekolah pemerintah yang menerapkan model datang – pulang. Menurut saya, tren ini bukan isapan jempol semata.

Secara nyata, pada Pondok Pesantren Fatihul Ulum Manggisan, khususnya, dan pesantren lain pada umumnya, sudah terjadi lonjakan santri baru dalam tiga tahun terakhir. Di sisi lain, sekolah – sekolah pemerintah banyak yang mengalami penurunan jumlah siswa baru, kabarnya, menurun hingga diatas 15%. Ini bisa kita dapatkan beritanya di koran-koran tentang masih belum terpenuhinya pagu pada beberapa sekolah pemerintah. Hanya segelintir sekolah pemerintah yang berhasil melampaui pagu yang ditetapkan.

Beberapa Sebab

Rasa Aman

Para orang tua murid, banyak yang berpikiran praktis. Mereka ingin rasa aman, dan rasa itu bisa datang jika putra – putri mereka ada dalam lingkungan pondok pesantren. Kita ketahui bersama, bahwa betapa berbahayanya anak – anak kita jika hidup dalam lingkungan yang tidak kondusif. Narkoba dan sejenisnya, sekarang mudah ditemukan dimana- mana. Sasarannya tidak hanya para remaja, bahkan sudah menarget anak – anak usia sekolah dasar. Bahayanya sudah terjadi dalam kenyataan kita bermasyarakat dan telah diberitakan dipelbagai media.

Sebagai orang tua yang menyadari kondisi ini, tentu mereka ingin rasa aman, dan pilihannya adalah pesantren. Kelengkapan silabus dan rencana pendidikan, program yang diunggul-unggulkan, biaya pendidikan yang dibebaskan, status akreditasi,apalagi sekedar seragam parlente bergaya kayak bule, kini tidak lagi menjadi magnet yang bisa menarik kuantitas anak didik pada lembaga pendidikan tertentu, jika RASA AMAN tidak bisa mereka jaminkan. Menjadi sesuatu yang unggul juga, ternyata beberapa pesantren, disamping memberikan rasa aman, juga mampu menerapkan standar administrasi dan pelayanan pendidikan berkualitas. Keren.

Baca Juga:  Taqwa

Pendidikan Agama

Sudah banyak kaca besar yang bisa dijadikan cermin. Pengetahuan umum saja tanpa diimbangi dengan pengetahuan agama yang memadai akan terasa pincang. Sekarang banyak pemuda yang tidak mengenal jati dirinya. Mereka sangat tidak bisa membedakan kebaikan dan kejahatan, bahkan, banyak diantara mereka tidak mengenal tuhannya. Mereka hidup mengalir seperti air yang keruh, yang mengotori setiap jalan yang dilewatinya. Sedikit sekali pilihan jalan dalam hidupnya.

Situasi itupun menyadarkan banyak orang tua, bahwa untuk menghindari kepincangan itu, pilihannya adalah pesantren. Pesantren masa kini dianggap sebagai lembaga yang mengajarkan keseimbangan pendidikan umum dan agama. Mereka berharap anaknya tidak dalam kebodohan, terdidik ilmu agama, dan tidak terjerumus dalam pergaulan tidak karuan.

Walaupun, kondisi ini menimbulkan kondisi sosial tersendiri yaitu masa nyantri seorang santri semakin singkat. Namun, ini adalah tugas pesantren untuk mengembangkan kurikulum pendidikan agamanya agar lebih mengena dan dapat selesai diiterapkan dalam masa yang singkat, sehingga dalam masa nyantri yang biasanya hanya sebentar itu, mereka, para santri, sudah mempunyai pemahaman ilmu agama memadai. Anggap saja, pesantren harus menciptakan seni dakwah yang baru, yang lebih efektif dan efisien.

Biaya Pendidikan

Hmm.…., bicara soal biaya pendidikan, dilihat dari mana saja, pesantren akan lebih murah. Apalagi pesantren yang memang menerapkan biaya murah meriah. Bayangkan saja, hidup dipesantren selama 24 jam penuh, dengan penjagaan super standar, dengan pengurus yang sabar dan tegas, dengan fasilitas air dan listrik yang full, dengan pola pendidikan yang santun, dengan mengajarkan pola pendidikan gerakan bathin, dengan pola pengajaran aplikatif; contoh langsung pengamalan agama dari para ustadz dan kyai, dengan sifat sederhana dan bersahaja. Bisakah semua itu dihargai dengan 1 juta dalam setahun seperti jatah BOS dari pemerintah? Sangat Tidak Memadai. Bahkan sebulan sejuta pun, masih sangat murah.

Baca Juga:  Agengseh

Bagi masyarakat kebanyakan, pesantren adalah lembaga pendidikan yang biayanya sangat murah. Para orang tua bisa fokus mencari nafkah untuk kelangsungan pendidikan anaknya di pesantren, sementara itu, anaknya bisa belajar dengan tenang di pesantren tidak mengganggu aktivitas kedua orang tuanya di rumah. Rupanya ini yang sering diteliti oleh para peneliti pemula dari kampus-kampus. Dan rata-rata hasil penelitiannya adalah bahwa pesantren mempunyai keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan non pesantren.

Output

Bukan rahasia lagi, bahwa seorang santri yang hidup di pesantren akan secara otomatis mengalami pendidikan kemandirian. Pada umumnya out put pesantren siap hidup dimana saja di belahan bumi Indonesia. Mereka sudah bermental hijroh. Mereka juga siap menekuni professi apa saja yang penting halal. Intinya, santri lebih siap hidup. Meminjam slogan SMK, bahwa; Pesantren, BISA !.

Program pendidikan pengabdian dan kemandirian dalam pesantren tidak dilakukan dengan perencanaan yang jlimet, seperti program KKN dan PPL, layaknya yang biasa dilakukan oleh sekolah non pesantren. Tetapi, berjalan ala kadarnya dan berhasil dengan kadar yang tinggi.

Kalau kita sedikit melirik sejarah bangsa, unsur santri itu ada dalam jejeran pahlawan kemerdekaan bangsa, para pendiri bangsa, para pejabat tinggi diawal bangsa ini merdeka, para menteri, bahkan beberapa presiden Indonesia adalah orang-orang yang masa lalunya pernah dijalani didalam pesantren. Kenyataan alumni pesantren sudah demikian dahsyatnya, dan kedahsyatan itu sepertinya akan kembali terjadi pada masa sebentar yang akan datang. Tugas pesantren adalah menyambutnya dengan mengucapkan “selamat datang, wahai kejayaan pesantren”.

Alhasil

Saya tidak sedang menulis tentang kemenangan. Tetapi, saya sedang menulis tentang awal sebuah perjuangan. Betapa besarnya harapan masyarakat, khususnya wali santri, kepada pendidikan pesantren. Dulu pesantren dianggap kolot, kini dianggap modern. Dulu pesantren dianggap tertinggal, kini dianggap didepan. Dulu santri dianggap kaum bawahan, kini santri sudah dianggap mampu menjadi atasan. Dulu santri dianggap pemalas dalam pekerjaan, kini santri banyak yang jadi pengusaha. Itulah anggapan sekaligus harapan masyarakat.

Baca Juga:  Menggapai cita-cita

Sebagai sebuah pesantren, Ponpes Fatihul Ulum Manggisan, mendapat banyak tantangan baru. Hiruk pikuk test seleksi masuk yang disusul dengan penutupan pendaftaran santri jalur sekolah formal secara tiba-tiba telah membuat HP saya selalu berdering dan harus ngecas 4 kali sehari karena batery sering low.

Bagi saya yang sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, rasa enjoy masih ada, karena tinggal menunggu setahun, insyaallah, keputusan ini akan berdampak sangat baik bagi Fatihul Ulum. Tetapi bagi sebagian orang, sulit sekali memahami situasi ini. Mereka ada yang tidak tahan mengeluarkan kalimat menusuk dada. Diantara meraka ada yang bersitegang dengan pasangannya. Ada yang mengeluh kok bisa…?, kok bisa ….?, Apa alasannya santri tertolak? Dan sebagainya.

Mungkin kita perlu sepakat dulu bahwa, untuk menjadi santri di Fatihul Ulum Manggisan memerlukan perjuangan yang sedikit melelahkan. Tantangan ke depannya adalah pelayanan stakeholder pesantren harus juga berjuang ditingkatkan. Pelayanan pada para “santri pemenang” harus semakin baik.

Mungkin kita perlu sepakat dulu bahwa, untuk menjadi santri di Fatihul Ulum Manggisan memerlukan perjuangan yang sedikit melelahkan. Pelayanan pada para “santri pemenang” harus semakin baik.

Semuanya harus memahami ini, kita semua harus berkomitmen bahwa ruang kelas para pemenang itu jangan pernah kosong dari pembelajaran. Sistem kontrol pencapaian keberhasilan dan kualitas etika harus menjadi perhatian dan mesti terus ditingkatkan tetapi tetap dalam situasi kasih sayang. Para guru dan ustad harus berada dalam satu barisan menatap pada tujuan yang sama yang sudah disepakati.

Wuihh… membayangkannya saja sudah terasa melelahkan….. Memang beginilah Awal dari Sebuah Perjuangan.

oleh: Guru Fatihul Ulum Manggisan

5 Comments

  1. Fatihul Ulum Manggisan Tanggul September 30, 2016
    • Iswan Dc September 30, 2016
  2. Redaksi Manggisan.ORG September 30, 2016
  3. roni October 31, 2016
  4. roni October 31, 2016

Leave a Reply