Al-Junaid-“Guru kaum Sufi”

Manggisan.org – Di dalam ideologi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah kita akan menemukan seorang Ulama’ yang bernama Al-Junaid Al-Baghdadi yang telah menjadi sebuah Figur utama dalam bidang tasawwuf, Seperti Syekh K.H. Hasyim Asy’ari Jombang menyebutkan:

Kalau dalam bidang tasawwuf mengikuti Madzhab yang dibangun oleh Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Ghozali”.

Mengapa Ulama’ Sunni memilih Madzhab Al-Junaid dalam bidang Tasawwuf tidak dengan yang lain? Nah, dalam Artikel ini kami akan menjawab dengan singkat tentang pertanyaan ini.Al-Junaid-"Guru kaum Sufi"

Biografi

Nama Lengkap dari Imam Al-Junaid ialah Abu Al-Qosim Al-Junaid Bin Muhammad Bin Al-Junaid Al-Khazzaz Al-Qawariri Al-Nahawandi Al-Baghdadi. Beliau di lahirkan dan sampai wafatnya ada di kota Baghdad untuk tahun kelahirannya masih belum jelas yang pasti. Ayah beliau adalah seorang pedagang pecah belah. Sedangkan ibunya ialah saudara kandung dari pada Sari bin Mughallas Al-Saqathi (W. 253 H/867 M), yang menjadi seorang tokoh sufi yang tersohor kemudian dalam bidang tasawwuf beliaulah yang menjadi gurunya.

Beliau memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa. Al-Junaid telah mampu mengeluarkan Fatwa-fatwanya Ketika dalam usia 20 tahun bahkan jauh sebelum itu, ketika berusia 7 tahun. Ketika di Tanya tentang masalah Syukur secara tepat dan benar, beliau menjawab:

“Jangan sampai kamu bermaksiat dengan nikmat yang telah di berikan Oleh tuhan”.

Al-Junaid selain berguru kepada pamannya Sari Al-Saqathi, ia juga berguru kepada Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (W. 243 H/856 M) dan lain-lain dalam masalah bidang tasawwuf. Dan dalam bidang tasawwuf, Al-junaid lah yang menjadi sumber inspirasi dan pemikiran Al-Muhasibi ketika menyusun karangannya.

Al-Junaid telah di sepakati menjadi seorang Ulama’ yang berdiri di persimpangan jalan, Madzhab (pendapat) yang di bangunnya semua menerimanya. Ia di sepakati sebagai penyandang gelar “Syeikh At-Thaifah Shufiyah” (Guru kaum Sufi). Menurut Al-Atsir Al-Jazari di dalam menjadikan madzhab al-Junaid ada empat faktor yang di sepakati sebagai jalan alternative dan pilihan Ahlus Sunnah Wal jama’ah.

Baca Juga:  Fatihul Ulum Manggisan

Konsistensi Al-kitab dan Sunnah

Pertama – Konsistensi nya Al-Junaid dengan Al-kitab dan As-sunnah. Fondasi agama yang benar dan kokoh yang di bangun madzhab oleh beliau. Ia membangun tassawwuf nya di atas fondasi kaedah-kaedah Al-Qur’an dan Hadits, yang telah di sepakati sebagai sumber primordial kaum muslimin. Hal ini hanya sebagai latar belakang almamaternya. Di mana sebelum Al-junaidi menekuni ilmu tasawwuf, ia sudah menekuni terlebih dahulu ilmu fiqih dan agama mengikuti ahli Hadits. Beliau belajar kepada Abu ‘Ubaid, Abu Tsaur dan para Ahli hadits yang lain, sehingga ketika berusia 20 tahun, Al-junaidi sudah bisa memberikan fatwa dan menyandang gelar Mujtahid.

Penguasaannya didalam Ilmu-ilmu Al-qur’an, Hadits dan fiqih memberikan pengaruh kepadanya untuk membangun Madzhab nya di atas fondasi Al-qur’an dan Sunnah yang valid. Isyarat-isyaratnya selalu dengan dalil-dalil Al-qur’an dan Sunnah di dalam tasawwuf nya. Dalam konteks ini, ia berkata: “ilmu kami ini (tasawwuf) di bangun dan Sunnah. Barang siapa yang belum al-qur’an, belum menulis hadits dan belum mengerti agama secara mendalam, maka ia tidak bisa di jadikan teladan dan pemimpin dalam tasawwuf”.

Konsistensi Syari’at

Kedua – Konsistennya Al-junaid dengan Syari’at. Dalam membangun tasawwuf nya juga di atas pokok/asas konsistensi dengan syari’at selalu di pegang teguh dalam sehari-harinya. Para ulama’ mengakuinya bahwa Isyarat-isyarat beliau dalam tasawwuf nya tidak ada sama sekali yang bertentangan dengan syari’at. Oleh karena itu, menurut beliau, Sunnah Rosul SAW harus mengatur kehidupan seorang sufi di setiap waktu. Jika ada seseorang yang melenceng dari pada Sunnah rosul, maka pintu kebaikan  akan tertutup baginya. Dalam konteks ini beliau berkata:

“semua jalan menuju Allah tertutup bagi makhluknya, kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak rosul, Sunnahnya dan menetapi jalannya. Karena semua jalan menuju kebaikan terbuka bagi sunnahnya”.

Baca Juga:  Apakah KITAB VEDA sebuah wahyu TUHAN?

Tasawwuf tidak bisa di ikuti sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, atau di ikuti sepotong saja menurut Al-Junaid. Tasawwuf harus di ikuti secara paripurna dan komprehensif.

“Tasawwuf harus di bangun di atas fondasi 8 akhlak para nabi; yaitu kedermawanan Nabi Ibrahim AS, keridhoan Nabi Ishaq AS, kesabaran Nabi Ayyub AS, Isyarat Nabi Zakariya AS, Keterasinga Nabi Yahya AS, Pakaian wool Nabi Musa AS, Pengembaraan Nabi Isa AS, dan Kefakiran Nabi Muhammad SAW”. Demikian lah pernyataannya.

Menurut Al-Junaid, jika seseorang dalam kehidupannya mengikuti jejak seorang tokoh yang menyalahi Sunnah rosul SAW, siapapun tokoh itu maka Ia tidak bisa di benarkan, termasuk dirinya. Ketika menjelang wafat, Beliau berwasi’at agar supaya catatan-catatan dari uraiannya dalam bidang tasawwuf di kubur bersamanya. Mengenai hal ini, ia berkata:

“Saya berkeinginan, Allah tidak akan melihat saya meninggalkan ilmu pengetahuan yang di nisbatkan kepada saya, sedangkan ilmunya Rosulullah SAW tersebar luas di antara mereka.”

Ia merasa khawatir apabila orang-orang akan memilih isyaratnya dari pada Sunnah Rosul SAW.

Juga di contohkan sendiri oleh Al-Junaid dalam konsistensinya dengan syari’at. Abu bakar Al-Athawi berkata :” Al-Junaid tidak berhenti dalam sholat dan membaca Al-Qur’an, sedang beliau dalam keadaan sakit keras, sehingga ketika beliau mau menghembuskan nafas terakhirnya telah di bacanya 70 ayat dari surat Al-Baqarah secara di ulang membaca Al-Qur’an kesekian kalinya dalam keadaan sakit”.

Kebersihan Aqidah

Ketiga, Kebersihan akidah. Disanalah fondasi akidah yang bersih Al-junaid membangun madzhabnya. Di waktu masa Al-junaid masih banyak di antara orang-orang yang terjerumus dalam akidah yang tercela,seperti akidah hululiyah,Mubahiyyah, dan kebatinan. Kayaknya , Faktor almamater Al-junaid itu sangat berpengaruh positif terhadap akidah yang menjadi landasan Tasawwuf nya, yaitu Akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Semisal, Menurut pendapat Al-Junaid tanda-tanda hakikat keimanan seseorang ialah Mendahulukan keridhaan Allah di atas segalanya dan Menyita kesibukan diri karena selain-NYA.  Sehingga yang menjadi pemilik jiwa dan pendorong raga pada pelaksaan perintah Nya ialah hanyalah Allah semata. Dan ketika itu ketaatan menjadi sempurna, menyalahi segala nafsu dna menjauhi segala larangan-larangannya dan ajakan musuhnya, meninggalkan segala urusan duniawi, menghadapkan diri kepada Sang Illahi.

Baca Juga:  Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Jangan Lupakan Bagian Anda (satu)

Tasawwuf Moderat

Keempat, tasawwuf yang moderat. Didalam membangun madzhabnya Al-junaid memakai ajaran yang moderat. Menurut beliau, orang yang baik bukanlah orang yang berkonsentrasi didalam melakukan ibadah semata, sementara dirinya masih tidak memberikan peran yang bermanfa’at kepada sesama. Dalam konteks ini ia berkata:

“Makhluk yang paling utama kedudukannya disisi Allah dan yang paling agung derajatnya di setiap waktu dan masa,disetiap tempat dan negeri adalah mereka yang paling menyempurnakan kewajibannya terhadap dirinya, paling terdahulu melakukan apa yang dicintai Allah, dan paling bermanfa’at bagi hamba-hambanya”.

Di waktu masa Al-junaid, Ada suatu aliran yang ekstrim dan tidak moderat di kalangan sufi, ia menyatakan apabila ada seorang yang sudah sampai pada maqom Ma’rifat atau Wali, maka ia tidak diperlukan lagi baginya pengamalan-pengamalan syari’at/ajaran-ajaran agama. Semua kewajiban sudah gugur baginya. Ini ada kemiripan dengan sebagian anggapan orang dewasa ini, bahwa apabila seseorang sudah mencapai maqom Ma’rifat, maka tidak perlu bagi anak cucunya untuk bermujahadah dan rajin belajar, karena ma’rifat dan ilmu akan datang kepada mereka dengan sendirinya. Menanggapi aliran ini, Al-Junaid berkata:

“Ini menurutku persoalan yang sangat besar. Orang yang mencuri dan berzina lebih baik dari pada orang yang berpendapat seperti ini. Andaikan aku di kekalkan sampai berusia 1000 tahun, niscaya aku tidak akan mengurangi sekecil atom pun dari amaliahku, terkecuali aku terhalang untuk menunaikannya. Dan Amal itu akan lebih mengokohkan ma’rifatku dan memperkuat keadaan spiritualku”.

Waallahu A’lam.

Rewrite By: Santri Fatihul Ulum Manggisan.

Leave a Reply