fiqih: Mujtahid, Ijtihad mungkinkah ? (Dua)

fiqih: Mujtahid, Ijtihad mungkinkah ? (Dua)Tahapan Ketiga, harus mengerti, menguasai dan hapal Al-Quran yang berjumlah tiga puluh juz. Syarat yang mutlak di perlukan oleh seorang yang ingin menjadi mujtahid, kerena agar hokum (fiqih) yang dikeluarkan tidak bertentangan antara ayat satu dengan yang lainnya. Memang sangat mustahil bagi orang tidak mengerti menguasai (fiqih) alquran mencomot satu ayat dan menggali hokum darinya tanpa ada pertimbangan ayat yang lain yang bisa saja serupa tapi tak sama. lanjutan dari : Fiqih . . . ijtihad

 

Tahapan Keempat, harus menguasai ilmu tafsir terutamnya asbabun nuzul pada tiap-tiap ayatnya. Perlu diketuhui bahwa alquran di turunkan tidak sekaligus tapi selama 23 tahun sesaui dengan sebab-sebab turunnya, karena menjawab persoalan yang terjadi di zaman para sahabat. Tentunya dalam penggalian hukumnya harus pula di pertimbangkan apa-apa yang melatar belakanginya. Dengan mengetahui latar belakangnya sang mujtahid bisa tahu arah pesan yang disampaikan Alquran.

 

Tahapan KELIMA, mengatahui ilmu hadis dan kumpulan hadis-hadis nabi. Standart minimalnya hadis-hadis yang ada pada KUTUB AS-SITTAH (enam kitab hadis), (1) shahih bukhari, (2) shahih muslim, (3) sunan annasa’i,(4) sunan abi dawud, (5) sunan ibnu majah, (6) shahih tirmidzi. Karena hadis mempunyai otoritas tertinggi dalam mengartikan alquran.

Berkaitan pula dengan ilmu hadis, seorang mujtahid dituntut bukan mengambil hadis sebagai rujukan saja, namun harus juga mengetahui perbedaan shahih nya hadis, dhoifnya hadis, lebih lebih hadis yang maudhu’ (palsu). Untuk tahu kedudukan hadis itu maka sang mujtahid harus mengetahui kwalitas para periwayatnya profile orang yang meriwayatkan hadis itu yang kadang hingg puluhan orang diselidiki juga latar  belakangnya, jika ada yang cacat (melakukan sesuatu yang tercela). Maka hadis itu akan berubah kedudukannya. Semua ini Untuk menghindari pengambilan keputusan yang lemah landasannya.

Baca Juga:  Penulis/Author Al-Qur'an tidak tahu Matematika Menurut Arun Shourie. Benarkah?

 

Tahapan Keenam, mujtahid harus mengetahui fatwa-fatwa ulama’ sebelumnya. Brikut latar belakang masalah hingga melahirkan fatwa ‘’para ulama’’ sebelumnya itu. Hal ini juga mutlak perlu agar tidak menyalahi kesepakatan para ulama’ yang sebelum-sebelumnya. Sebab kalau bertentangan dengan kesepakatan ulama’ sama saja dia menyalahi nash sharih. Pendek kata, seorang mujtahid harus menguasai kitab dari madzhab empat (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’I, Imam Hambali ). Brikut mengetahui perbedaan-perbedaan imam dalam menggali hukumnya berikut prinsip yang bliau anut dalam pengambilan keputusannya. Agar tidak malah memunculkan konflik baru.

****

Keenam syarat diatas menggambarkan bahwa mujtahid itu bukanlah profesi yang main-main. Posisi itu sangat serius, bahkan kalau melihat sejarah lahirnya bliau-bliau memang sudah diap semanjak usia belia. Imam syafi’I hapal alqur’an sebelum bliau mencapai akil baliq dan sudah hafal kitab imam malik sebelum umur tujuh belas tahun.

Ijtihad bukan membuat fatwa hokum tanpa ada korelasi dengan Al-Alqur’an dan hadis. bahkan alquran hadist lah yang menjadi bahan landasannya.

Kemudian muncul pertanyaan selanjutnya: apakah pintu ijtihad sudah tertutup ?. jelas tidak, namun untuk mencapai posisi itu sangatlah sulit dan bukan main-main. Kalau dijaman sahabat saja hanya beberapa, padahal mereka lebih dekat pada sumbernya. Lalu ? bagaimana kalau jaman sekarang ini yang sudah terpaut ribuan tahun dari sumber aslinya.

 

Disarikan dari bulletin sidogiri ed 22 ramadhan pada kolom fuqoha.

Oleh santri pondok pesantren Fatihul Ulum Manggisan Tanggul

Leave a Reply