fiqih: Mujtahid, Ijtihad mungkinkah ? (satu)

fiqih: Mujtahid, Ijtihad mungkinkah ? (satu)Tatanan dalam akademik sekarang. Ada semacam gelar kehormatan bagi mereka yang telah mencapai tingkat keilmuan tertentu, seperti professor dan doctor. Dunia islam masa lalupun juga begitu. Dalam bidang fiqih misalnya, ada gelar AL-allamah, Al-faqih, sampai gelar mujtahid mutlak. Dalam hadist ada gelar al-hujjah, almuhaddist dan al-hafizh.

Puncak gelar dalam bidang fiqih adalah mujtahid. Gelar ini disematkan pada orang orang yang telah memiliki kemampuan mumpuni untuk menggali hukum langsung dari sumber aslinya. Yaitu alquran dan hadis. Tentunya mujtahid pertama ialah rosulullah karena bliaulah pembawa syariat, di masa sahabat tidak ada yang berani memposisikan dirinya sebagai mujtahid kecuali sekitaran 130 orang. Selebihnya hanya sebagai muballigh, menyampaikan hadis-hadis nabi begitu juga di masa-masa tabi’in, bisa disebut sangat jarang yang sampai hingga tingkatan mujtahid kecuali hanya di kisaran sepuluh (10) orang.

Kenapa begitu sulit untuk mencapai pada taraf mujtahid ini, tak lain disebabkan perannya yang vital dan sangat berisiko karena sama dengan menggantikan kedudukan nabi dalam memutuskan hukum dimasyarakat. Otomatis pertanggung jawaban juga sangat di tuntut karena kedudukan mujtahid nya.

Untuk itu jika saat ini kita mau ber IJTIhad atau menjadi mujtahid ada beberapa tahapan yang harus dipenuhi, tidak serta merta saja hanya dengan modal qur’an tarjamah dan hadis yang sangat ala kadarnya seseorang bisa memposisikan diri sebagai mujtahid. Walaupun saat ini ada guru yang cukup mumpuni yaitu ‘mbah Google’,  tetap saja kedudukan mujtahid sangat sulit untuk dicapai.

TAHAPAN PERTAMA, harus menguasai bahasa arab dengan baik. Syarat yang mutlak bagi yang hendak menjadi  mujtahid. Sebab sumber asli hukum dalam ijtihad adalah alqur’an, dan di turunkan dalam bahasa arab. Dan rosulullah yang memiliki otoritas penuh untuk menjelaskan alquran juga menggunakan bahasa arab.

Baca Juga:  Mengapa umat Islam menyembah dan sujud ke Ka'bah dalam sholat mereka?

Sastra dan tata bahasa arab yang ada dalam alquran bermutu sangat agung sehingga tidak bisa dipahamai dengan hanya sekelumit ilmu bahasa arab biasa. Untuk bisa mengerti bahasa arab yang ada dalam Al-Quran banyak yang perlu di kuasai oleh seorang mujtahid. Mulai dari NAHWU, Sharraf, BAYAN, BADI’, Balangah, arudh, dan qowafy.

Berbagai disiplin ilmu diatas, harus dikuasai dengan baik oleh seorang mujtahid. Karena sering kali alquran mengungkapkan pesannya yang sifatnya husus, namun mengandung sifat umum, dan sebaliknya. Ada juga yang kalau di lihat secara tekstual mengandung kata perintah namun kenyataannya adalah larangan. Tekstual-tekstual semacam itu tidak mungkin dikuasai oleh seorang mujtahid yang tidak menguasai dengan sangat baik semua disiplin ilmu di atas.

Tahapan KEDUA, ialah dengan menguasai ilmu Ushul Fikih. Syarat yang juga mutlak di perlukan oleh bagi seorang mujtahid. Seperti yang di katakan oleh ibnu al-farabi ; bahwa dalam surat baqarah saja terdapat seribu perintah, seribu larangan, seribu hukum dan berita. Tidak mungkin bagi seorang mujtahid dapat menggali semacam itu tanpa dengan ilmu Ushul Fiqih. Dan Ushul Fikihlah yang menerangkan secara luas dan gamblang, cara memahami hal demikian.

Bersambung :

di ejawantahkan oleh :

santri Pondok Pesantren Fatihul Ulum Manggisan

Leave a Reply