Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Jangan Lupakan Bagian Anda (dua)

Ren Ibnu Qayyim: Sesungguhnya pencarian orang tua akan seorang istri dan anak anaknya merupakan puncak pengabdian dan ibadahnya. Jika ia menginginkan kenikmatan-kenikamatan dalam berkeluarga, maka hal itu sangat dibolehkan dan mubah, yang kemudian akan melahirkan ibadah-ibadah yang lainnya, seperti menjaga dirinya dari kelakuan-kelakuan yang keji, demikian pula dapat menghindarkan istrinya dari hal itu. Nabi musa menyumbangkan sebagian umurnya selama sepuluh tahun sebagai mahar (Mas Kawin Nikah pen.) untuk anak nabi Syu’aib As.Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Jangan Lupakan Bagian Anda (dua) Ibnu Qayyim

Andaikan nikah bukan suatu hal yang sangat terpuji dalam islam, niscaya para nabi terdahulu tidak akan menikah. Bahkan Ibnu Abbas berkata, ‘’sebaik-baiknya ummat ini adalah mereka yang mampu kawin dengan beberapa perempuan dan mampu berbuat Adil’’  Sarriyah Rabi’ bin Khaitsam berkata, ‘’Rabi’ (suami surayyah) melakukan ‘azl (pencegahan kehamilan). Adapun makan dan minum tidak ditujukan kecuali untuk menguatkan badan dalam rangka berbakti pada Allah dan wajib bagi pemilik unta untuk memelihara sebaik-baiknya agar bisa ditunggangi.

Rosulullah Saw selalu makan dari apa yang bliau dapat. Jika mendapatkan daging, dimakanya. Bliaupun makan daging ayam. Makanan kesukaan bliau ialah yang manis-manis dan madu. Belum pernah di diriwayatkan bliau mencegah dirinya dari hal yang mubah/boleh. Bliau membenci makan melebihi batas kenyang yang wajar dan tidak menyukai pakaian yang menunjukkan kesombongan. Memang banyak orang yang puas dengan segala yang sangat sederhana, karena mungkin dia memang sangat sulit untuk mendapatkan yang halal. Padahal, jika mungkin, bukankah rosulullah saw. Juga memakai pakaian seharga dua puluh tujuh binatang ternak? Tamin Al-dary memiliki tempat tinggal seharga seribu dinar, yang dia pakai untuk sembahyang di malam hari.

Baca Juga:  Hobi; Mem Baca dan Manfaatnya

Di masa berikutnya, bermunculanlah orang-orang yang berpura-pura zuhud. Mereka membentuk kelompok-kelompok yang di isi dengan  kegiatan-kegiatan yang mereka buat-buat sendiri. Mereka menghisai prilaku mereka dengan dalil-dalil, padahal manusia yang memiliki visi pandangan yang benar akan mengikuti dalil dan bukan malah membuat dalil. Mereka terbagi lagi di dalam beberpa kelompok. Ada yang berpura-pura zuhud secara lahiriah, namun tidak dengan batinnya. Mereka menikmati keindahan syahwatnya dan larut dalam nafsu saat mereka sendiri.

Mereka memperlihatkan kesufian dan kezuhudannya kepada orang lain dengan cara berpakaiannya. Akan tetapi, hanya pakaian merekalah yang zuhud. Sebenarnya mereka lebih angkuh daripada Fir’aun. Ada pula yang baik batinnya, namun tidak memahami syariat. Sebagian yang lain membuat-buat tarekat, sehingga banyak orang-orang yang bodoh mengikuti tarekat yang mereka dirikan. Mereka orang buta yang dituntun oleh orang buta pula. Seandainya mereka menyaksikan masa-masa rosulullah dan para sahabat terdahulu, tak mungkin mereka ikut tersesat.

Orang-orang yang benar-benar mengerti tentang syariat tak akan peduli terhadap orang-orang yang di hormati dalam masyarakat tertentu jika perilaku yang bersangkutan melebihi batas syariat. Mereka bahkan bersikap tegas kepada orang-orang tersebut.

 

Ejawantah Shaidul Khatir : by REW fatihul ulum manggisan

Leave a Reply