Akhlaq Menggantung Nasib

Manggisan.org – Akhlaq Menggantung Nasib

Di suatu desa ada seorang pemuda tampan, ia bertitle “Ustadz” disalah satu pondok yang cukup terkenal. Title itulah yang telah menjunjung derajatnya. Setelah mengetahui titlenya, mungkin kebanyakan orang menilai bahwa dia itu taqwa, alim, sopan, banyak menguasai hukum agama, dll. Untuk mendapatkan title ustadz tidaklah mudah. Membutuhkan proses yang panjang.Akhlaq Menggantung Nasib

Pada suatu hari, dia di utus oleh kiyainya ke desa tetangga, untuk mengisi acara sebagai Muballigh. Kebetulan kiyainya sedang ada udzur. Maka sebagai santri kepercayaan, dialah yang di tunjuk untuk menggantikan kiyainya. Sesampainya di tempat tujuan, dia turun dari motornya dengan detakan jantung yang begitu kencang. Karena, itulah pertama kali ia mengisi acara sebagai muballigh. Semua mata tertuju padanya, ia di sambut dengan ramah, semua warga disana berebutan untuk sowan (bersalaman) dan mencium tangannya, meskipun bukan kiyainya yang hadir, tetapi masyarakat disana menyambut selayaknya kiyai.

Disaat itu ada anak-anak yang ikut sowan. Tanpa di sengaja, sewaktu sowan ingusnya anak itu jatuh ketangannya ustadz, karena sedang pilek (Flu). Sontak ustadz membanting tangannya dan memarahi anak itu. Ditengah keramaian, ia berkata dengan nada tinggi, “Hai kamu….kurang ajar….!!! Apa yang kamu lakukan?? Berani-beraninya kamu mengotori tanganku dengan ingusmu yang menjijikkan itu.” Semuanya tertegun heran mendengar ucapan ustadz, termasuk orang tua dari anak itu yang kebetulan ada di sampingnya. Sungguh tak disangka, di balik ketampanan dan penampilan yang sopan, ternyata ia tidak bisa menjaga lisannya.

Suasana terasa tegang, tak sedikit orang yang berbisik-bisik menggunjingnya. Dari awal hingga akhir, acara itu tidak berjalan dengan lancer. Walaupun ia berceramah diatas pentas, namun tak ada satupun warga yang mendengarkan ceramahnya.

Baca Juga:  Santri Juga Manusia

Suatu saat, dia merasa umurnya sudah cukup untuk menikah dan ia ingin meminang seorang gadis, yang tak lain adalah gadis dari desa tetangga, desa yang telah ia datangi dulu. Berkali-kali ia melamar gadis-gadis di desa itu namun hingga sekarang ini ia masih tetap membujang. Karena, namanya sudah tercemari oleh akhlaq buruknya.

Maka dari cerita itu kita bisa memetik kesimpulan, bahwa akhlaq itu sangatlah penting dalam bermasyarakat. Tanpa akhlaq, nama kita selalu ada di bawah, bahkan ketika meminang gadis pun yang di nilai pertama kali dari sisi akhlaqnya. Ilmu akhlaq tidak harus di kaji di pondok pesantren, sekarang sudah modern. Sekarang yang ingin kita tanyakan pasti terjawab di media masa (Google). Bagi yang tidak mengerti media masa dapat membeli buku-buku yang menjelaskan tentang perilaku manusia. Lebih jelasnya lagi, lihat di buku “ Terjemah Ta’limul Muta’allim “.

Dengan akhlaq, kita bisa meninggikan derajat diri sendiri, keluarga, sekolah dan yang bersangkutan dengan kita. Dan tanpa akhlaq pula, nama kita bisa tercemar, termasuk keluarga dan sekolah kita. Apalagi yang menjadi santri, jika akhlaq nya buruk dapat mencemarkan nama baik pesantren, ustadz, kiyai dan yang bersangkutan. Nasib itu tergantung pada tingkah laku kita. Karena kita adalah makhluk sosial, tidak mungkin hidup sendiri dan dalam berinteraksi dengan masyarakat kita harus di bekali dengan akhlaq hingga timbullah nilai-nilai sosial dari masyarakat.

Menurut saya, “Akhlaq” adalah hal yang paling penting dalam hidup kita, dan harus dijaga oleh setiap orang. Bagi orang tua harus mengajari akhlaq-akhlaq baik kepada anaknya sejak dini dan bisa menjadi cermin yang baik bagi anak-anaknya.

Pepatah mengatakan: “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Jadi kesimpulannya adalah: Martabat seseorang tidak bisa di ukur dengan banyak kitab yang di pelajari, ayat Al-qur’an yang di hafalkan, harta yang melimpah, nasab yang terpandang ataupun paras yang tampan. Semuanya itu tidak ada gunanya tanpa di iringi akhlaq yang mulia.

Baca Juga:  Mengenal Kata " Santri "

 

By: Siti Nur Laylatul Ahada, kelas XI c, Asrama B1, Santri Putri Fatihul Ulum Manggisan.

Leave a Reply