Bagaimana Seharusnya Kita Belajar?

Manggisan.org – Mungkin sajian ini agak aneh dibanding dengan sajian-sajian yang lain. Perlukah menyajikan tentang metode belajar yang baik? jika memang relevan, sejauh mana relevansinya? Bukankah kita setiap membaca dan berfikir atau mendengar sudah dianggap belajar meskipun dalam tanda petik? Dan jika belajar memerlukan metode yang baik, sejauh mana pentingnya melaksanakan metode tersebut?Bagaimana Seharusnya Kita Belajar?

Dewasa ini  memang penuh dengan berbagai sajian tentang metode. Tidak ketinggalan misalnya metode baca kitab cepat. Metode baca al-qur’an cepat. Metode membaca cepat, dan masih banyak lagi metode-metode cepat lainnya. Seolah-olah metode itu berkaitan dengan kecepatan yang melebihi sistem konvensional lainnya. Sehingga dari membaca ada yang berasumsi bahwa sajian ini berkaitan dengan metode belajar cepat itu tadi.

Perlu diketahui bahwa metode ini tidak berkaitan dengan cepat atau lambat. Tetapi insya Allah berkaitan dengan bagaimana belajar dapat mengantar seseorang pada cita-citanya. Pada keinginan idealnya dalam bidang keilmuan yang digelutinya. Memang seseorang yang sedang melaksanakan sesuatu jangan sekali-kali meremehkan apa itu metode atau cara. Karena Allah dalam memberikan perintah berdakwah kepada Nabi Muhammad saw juga menyampaikan metode atau cara berdakwah yang harus dijalankannya.

 Allah memerintahkannya, Ajaklah kejalan tuhanmu dengan bijak dan nasehat yang baik”.

Dari perintah ini jelas sekali, bahwa mengajak orang lain ada dengan cara yang tidak bijak dan nasehat yang tidak baik. Tentu hal itu harus dihindari oleh seseorang. Ia harus menggunakan metode dan cara yang bijak dan nasehat yang baik. Betapa pentingnya berdakwah, tetapi juga tidak kalah pentingnya metode bijak dan nasehat yang baik sehingga Allah menyandingkan kedua-duanya dalam rangkaian satu ayat yang harus dijalankan oleh nabi-Nya.

Baca Juga:  Hak-hak Orang Tua

Hal ini karena berdakwah bukanlah suatu tujuan akhir yang apabila dilaksanakan selesai sudah fungsi dan perannya. Berdakwah adalah wasilah atau sarana untuk mengatakan orang lain memahami dan menerima apa yang didakwahkannya. Sebagai suatu sarana atau wasilah yang mempunyai tujuan akhir maka harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak dan nasehat yang baik.

Agama menjelaskan bahwa orang yang alim lebih tinggi derajatnya daripada orang yang tidak alim. Dengan demikian agama menempatkan orang alim pada posisi yang istimewa. Beberapa ayat, berbagai hadist-hadist nabi, pernyataan ulama-ulama salaf shaleh banyak yang menyatakan keistimewaan derajat orang yang berilmu. Tentu sebagai sesuatu yang istimewa, tidak mudah untuk memperolehnya. Jika untuk memperoleh pasir cukup mengambilnya diatas permukaan bumi, tetapi untuk memperoleh mutiara harus menyelami dasar lautan yang dalam. Demikian pula derajat alim, sebagai sesuatu yang istimewa dalam agama, tidak mudah bagi seseorang untuk menyandang predikat sebagai orang yang alim.

Suatu hal yang pertama kali harus diperhatikan oleh orang yang mencari ilmu ialah, harus diketahui bahwa mencari ilmu ialah, harus diketahui bahwa mencari ilmu jalannya panjang, jalan ini tidak bisa dilalui kecuali dengan meninggalkan kesenang-senangannya. Karena Allah SWT menjelaskan bahwa ilmu (wahyu) yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw itu berat. “Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”.

Karenanya, ketika ada orang yang bertanya kepada Al-Iman Malik bin Anas tentang suatu, Al-Imam Malik tidak member jawaban. Orang tersebut berkata “Masalah ini gampang, mudah”. Al-Imam Malik berkata kepadanya,

“Jangan katakan begitu. Dalam ilmu besar atau kecil tidak ada yang gampang atau yang mudah. Karena Allah SWT menyifati ilmu tersebut dengan berat”.

Pemahaman seperti ini adalah pertama kali harus diperhatikan oleh seorang pencari ilmu. Harus dimengerti bahwa ilmu semuanya berat. Setiap permasalahan dalam berbagai masalah-masalah ilmu membutuhkan perhatian yang sungguh dan pengertian yang mandiri. Barang siapa yang mengatakan, pelajaran ini gampang, bait ini mudah, kita lewati saja seperti layaknya orang yang terhormat, maka orang tersebut tidak akan mendapatkan apa-apa dari ilmu sampai dia menganggap bahwa ilmu secara keseluruhan sama saja, baik itu kaedah-kaedahnya,cabang-cabangnya, dasar-dasarnya, baik dari segi perhatian, penghafalan, pendiskusian dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Sadarlah dan Sungguh-sungguhlah

Ilmu jika kamu tinggalkan, kamu akan ditinggalkan. Dan jika kamu hampiri, kamu akan sebagaiannya. Sebagaimana dalam maqolah terkenal Abu Yusuf-murid kenamaan Al-Imam Abu Hanifah-,

“Ilmu jika kamu memberinya seluruh jiwa ragamu, akan memberimu sebagiannya, kamu tidak akan mendapatkan sesuatu apapun darinya”.

Apa yang dikatan oleh Al-Imam Abu Yusuf ini bukan isapan jempol belaka. Betapa banyak orang-orang yang hafal pelajarannya pada waktu menghadapi ujian, tetapi begitu selesai mengikuti ujian, selesai itulah ilmunya. Jadi, ilmunya hanya sebatas ujian. Terkadang setelah ia menamatkan salah satu jenjang pendidikannya, ia merasa bahwa dirinya tidak memperoleh sesuatu apapun dari semua yang pernah dipelajarinya.

Jika ditanyakan mengenai apa yang pernah dipelajarinya seolah-olah ia menerima pertanyaan yang sama sekali asing ditelinganya dan seakan-akan belum pernah didengarnya. Ini karena apa, tentu karena ilmunya hanya bagaikan angin yang lewat begitu saja. Semua ini karena kurangnya kesungguhan belajar orang yang bersangkutan, sehingga apa yang dipelajarinya tertanam kuat di hatinya, bagaikan pohon kelapa yang tertanam di tanah keras yang tidak akan roboh diterpa angin kencang dan tidak akan goyah digoyang gempa bumi.Bagaimana Seharusnya Kita Belajar?

Dari sinilah para ulama tidak henti-hentinya memberi arahan-arahan kepada pencari ilmu agar bersungguh-sungguh dalam belajarnya. Arahan-arahan tersebut ada yang berupa menghilangkan rasa malas, ada yang berupa metode menghafal, ada yang berupa metode memperdalam penalaran dalam memahami kitab atau displin ilmu yang dipelajari. Sebagaian pesan-pesan mereka dibukukan dalam buku-buku semisal Ta’lim Al-Muta’allim karya Al-Imam Burhanunddin Al-Zarnuji, Tadzkirat Al-Sami’wa Al-Mutakallim karya Ibnu Jama’ah Al-Kinani, Jawahir Al-‘Iqadim karena Al-Samhudi, Adab Al-‘Alim Wa Al-Muta’allim karya Hadlratusyeikh Hasyim Asy’ari dan lain-lain. Wallahu a’lam.

Leave a Reply