Fatamorgana Pemikiran Pesantren

Manggisan.org – Fatamorgana pemikiran pesantren

Di akhir abad 20, pesantren telah mendapat nilai plus sebagai salah satu unsur penting yang mengkampanyekan arus keterbukaan dan inklusivisme beragama. Tapi, penilaian itu lebih merupakan kesan yang membias hanya pada masing-masing individu yang mewakili pesantren, bukan pesantren secara kelembagaan.

     Tokoh-tokoh penting yang selama ini di kesankan sebagai motor arus liberalisasi keagamaan memang banyak di antaranya yang merepresentasikan pesantren. K.H. Abdurrahman Wahid dengan “Islam inklusif”-nya, K.H. Hasyim Muzadi dengan “kerukunan beragama”-nya atau K.H. Achmad Shiddiq dengan “trilogi ukhuwah”-nya, mereka adalah tokoh-tokoh yang membawa nama pesantren.

Apa yang di kesankan para tokoh tersebut terhadap publik sebetul nya tidak mewakili pemikiran kalangan pesantren secara umum sepak terjang maupun pemikiran tokoh-tokoh tersebut tidak mempunyai akar yang kuat kebawah. Apa yang di sebut sebagai islam inklusif maupun trilogy ukhuwah pada kenyataannya bukanlah gagasan yang akrab dengan dunia pesantren-untuk tidak mengatakan tidak di kenal sama sekali.Fatamorgana Pemikiran Pesantren

Lebih jauh lagi, kalau hitung-hitungan basis pemikiran, jika mau jujur, umumnya kalangan pesantren lebih sreg dengan pemikiran fundamentalistik, meski bukan dalam arti aksi (politik). Hal ini tentunya merupakan hasil (baca: pengaruh) langsung dari pendidikan pesantren umumnya yang masih menggunakan refrensi-refrensi Islam abad pertengahan.

Itulah yang menyebabkan pesantren menjadi lebih sreg dengan arus pemikiran fundamentalistik dibanding liberal, meskipun pada peracaturan pemikiran nasional tokoh-tokoh pesantren cukup masyhur dengan Islam inklusifnya. Apalagi, referensi-referensi yang di gunakan di pesantren umumnya kerapkali mencerminkan pemikiran fundamentalistik, seperti rujukan hukum (fiqh), teologi (ilmu kalam), maupun ritual-moral (tasawuf-akhlak) yang lebih banyak menggunakan khazanah Islam Abad pertengahan.

Kitab-kitab hukum (fiqh) yang biasa di gunakan berbagai pesantren seperti Sullam al-Tawfiq, Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Fath al-Wahhab, dll lebih sesuai dengan arus fundamentalisme dibanding sekularisme dan inklusivisme. Rujukan teologi (ilmu kalam) seperti Kifayat al-Awam, jawahir al-Kalamiyah, Hasyiyat al-Dasuqi dll. Menetapkan batas yang begitu ketat antara apa yang di sebut mu’min dan apa yang di sebut kafir.

Memang, konon menurut sejarah pesantren lebih banyak memperjuangkan Islam lewat pergerakan kultural dibanding politik. Namun, hal ini tidak banyak memberikan pengaruh terhadap corak pemikiran mereka. Kendati jarang menggerakan Islam di kancah politik, pemikiran pesantren tetap terbentuk dari khazanah-khazanah yang mencerminkan pemikiran fundamentalistik (baca: Islam sebagai ideologi dalam segala hal).

Baca Juga:  Hobi; Mem Baca dan Manfaatnya

Lalu, kenapa yang terkesan dari pemikiran pesantren adalah inklusivisme?

Pertama, ada semacam kecenderungan sufistik bagi mereka, bahwa jalan yang terbaik bagi manusia adalah khumul (tidak suka tampil). Trend ini menyebabkan apa yang ada dalam benak kaum santri tidak banyak diketahui orang. Sedang orang-orang yang tampil mewakili pesantren, umumnya adalah mereka yang sudah “berubah pikiran” akibat persinggungan dengan dunia luar.

Kedua, mayoritas kalangan pesantren dibesarkan dalam iklim pemikiran maupun aksi yang monolitik. Ikatan emosional kaum pesantren dengan tokoh-tokohnya terbentuk dengan begitu kuat. Hal ini menyebabkan perbedaan pemikiran mereka dengan sebagian para tokohnya seringkali tidak terartikulasi ke publik dan berakhir kabur, sehingga jarang sekali terjadi perbandingan perbenturan pemikiran.

Tanpa ada keinginan untuk menghakimi mana yang benar-jelasnya bahwa telah terjadi jarak yang bergitu renggang antara pemikiran pesantren di akar rumput -yang cenderung fundamentalistik- dengan apa yang telah di artikulasikan “elite-elite nya” kedunia luar yang cenderung inklusif.

Kesenjangan ini meskipun hakikatnya sama-sama mengutup, tapi jarang sekali yang mengkristal dalam bentuk polarisasi pemikiran. Kendati kepada pemikiran sebagai tokoh seperti Said Aqil Siradj mereka menolak dengan keras, tapi kalangan pesantren tidak mempunyai sikap yang tegas terhadap pemikiran-pemikiran inklusif tokoh lain yang memiliki pengaruh luas. Ikatan emosional dengan para tokoh berpengaruh selalu berhasil meredam terpolarisasinya dua pemikiran yang saling bertentangan.

Kendati telah terjadi perubahan kesan pada dunia pemikiran pesantren, tapi sampai sekarang pun, tidak banyak yang berubah dari pesantren itu. Hanya sebagian kecil saja, pesantren yang punya kesesuaian dengan arah pemikiran inklusivisme. Selebihnya, tetap tumbuh dari akar yang diwariskan sebelumnya.

Di tengah ramainya iklim pemikiran inklusivisme beragama. Pesantren-pesantren seperti acuh tidak acuh dengan arus pemikiran tersebut. Padahal, ini adalah ajang yang tepat untuk membuktikan ketegasan berfikir mereka. Di satu sisi, pesantren telah membangun pandangan-pandangannya dari kitab-kitab Abad Pertengahan yang mengakui formalisme syariah, tapi di sisi lain mereka tidak mempunyai pandangan yang tegas tentang sekularisme. Mereka juga membangun kehidupan beragamanya dari definisi, sekat, dan jarak yanag begitu lebar dan ketat antara muslim (mu’min) dan nonmuslim (kafir), tapi mereka seperti sangat enggan berkolemik soal itu.

Baca Juga:  Masalah Dengan Bau Badan (BB) ?

Kaum santri memang tak pernah tegas soal itu. Elan kristisisme mereka telah dibungkam ikatan emosional yang begitu kuat dengan tokoh-tokoh yang berada di garis depan wacana inklusivisme. Ataukah mungkin karena pesantren belum terbiasa dengan perbenturan pemikiran? Yang jelas, pesantren, unsur terpenting dalam tubuh Nahdlatul Ulama, seperti tak pernah beraksi pada saat anak-anak muda NU yang lain begitu aktif mengkampanyekan wacana islam liberal dan inklusivisme beragama. Di saat ada tantangan wacana semacam itu, pesantren justru disibukkan dengan perbedaan firqah masa lalu yang hanya tinggal cerita.

Dan, pertarungan wacana pun berlangsung dengan sangat tidak seimbang atau mungkin tidak pernah terjadi antara mereka. Lalu kapan? Wallahu A’lam.

Redaksi: Jember istinbat

Leave a Reply