Bangkit-nya Intelektual Sarungan

Manggisan.org – Bangkit nya Intelektual Sarungan

Ketika kita mendengar kata “intelektual” konotasinya pasti kepada kalangan ilmuwan pakaiannya necis, berdasi dan bercelana. Seakan tidak pernah ada dari insan sarungan  (baca: orang pesantren). Mereka lebih akrab disebut sebagai sosok kyai atau ustadz yang “tidak mengenal perkembangan keilmuan modern”. Bahkan mereka diklaim sebagai pemikir tradisional.Bangkit-nya Intelektual Sarungan

Namun kenyataan sekarang sudah lain Bangkit nya insan pesantren dalam dunia pergulatan pemikiran, sudah mulai membeliat.  Mereka yang lebih kental dengan epistimologi klasiknya juga mulai tergugah untuk berperan aktif inklusif  dalam dunia pemikiran kekinian. Tampa terasa -diakui atau tidak- mereka telah banyak menyentuh (baca: membaca) katalog yang menjadi konsumsi kaum intlektual modern, yaitu khazanah al-kutub al-mu’ashirah (kitab-kitab modern telah menjadi bacaan sehari-hari para santri.

Melihat fenomena ini, kiranya dikotomi kaum modernis dan kaum tradisionalis (santri) akan dapat terfusi dalam satu bingkai moderat antara paradigma tradisional modern.

Di era supremasi keilmuan islam, dikotomi semacam ini pernah terjadi. Dimana Imam Sa’id bin Musayyab dan Imam Malik, sebagai representasi dari penduduk Madinah, dikenal sebagai ahl al-hadist atau berfikir fundamentalis , yang sama sekali tidak memberikan tempat terhadap qiyas (analogi). Sedangkan Imam Ibrahim bin Yazid al-Nakha’i dan Imam Abu Hanifah, mewakili pemikiran Iraq, diklaim sebagai ahl al-Ra’ywa ahl al-Qiyas  atau pemikir analog-rasional.

Menurut kelompok yang kedua, ra’y  atau rasio mempunyai peran yang signifikal. Dan ditempatkan ditangga yang kedua adalah setelah nash al-syar’i . sebab berbagai kasus yang terjadi setelah wafatnya Nabi, tidak semuanya terakomodasi dalam al-Qur’an atau hadist secara eksplisip. Oleh karenanya –masih menurut kelompok yang kedua- ra’y mempunyai peran penting dalam merumuskan hukum yang tidak ditemukan dalam al-Qur’an dan al-sunnah.

Baca Juga:  Santri Juga Manusia

Dengan demikian, timbullah polarisasi antara kedua kelompok  pemikir ini. Pemikir Iraq, diklaim sebagai kaum analog-rasional. Sedangkan ulama Madinah disebut kaum fundamentalis. Hal ini menyebabkan ketidak harmonisan antara kedua kelompok. Bahkan pada suatu ketika, Ibnu Abbas ditanyakan sebuah hukum oleh seseorang. Setelah dijawab dia masih bertanya alasannya. “Kamu ini orang Iraq”, cetus Ibnu Abbas kepada si penanya.

Namun akhirnya, datanglah Imam Syafi’i yang kemudian dapat mensintesiskan antara kedua paradigma pemikiran diatas. Disamping ahl  al-Hadist, beliau juga menerima qiyas sebagai sumber hukum . sehingga beliau dikatakan telah menetraslisir dan mengkomparasitan antara teks dan rasio.

Dari sejarah ini dapat kita pahami, bahwa perbedaan paradigma dalam dunia pemikiran merupakan hal yang wajar.  Siapapun boleh berpikir secara terbuka, tampa terbelenggu dengan pemikiran orang lain. Asalkan satu sama lain saling menghargai. Dengan kata lain, tidak ego pendapat.

Menteri Agama KH. Drs. Tholhah Hasan, dengan nada mantap , memprediksikan bahwa pada dekade mendatang, NU –yang lebih dikenal dengan kelompok tradisional –  akan memasuki era supremasinya. Selama ini tubuh NU sendiri terdapat  gap   dikotomik antara orang NU yang jebolan pesantren dengan insane NU yang berpendidikan formal. Pemikiran mereka yang mengenyam pendidikan formal sudah maju kedepan. Sementara dari yang alumnus pesantren pesantren masih berjalan ditempat.  Pada gilirannya, ketika seorang intlektual modernis menggulirkan gagasan spektakuler, mereka yang berpendidikan salaf, langsung menolaknya, tampa ada dialog interaktif antara pihak terkait.

Namun pada dekade mendatang – masih prediksi Thalhah Hasan – antara NU yang dari pesantren dengan NU yang berlatar belakang pendidikan formal akan terpadu. Mereka yang berpendidikan salaf, mulai tergugah untuk selalu mengikuti perkembangan keilmuan terkini. Bagi mereka yang modern tak terlalu eksesif dalam berpikir.

Baca Juga:  Fatamorgana Pemikiran Pesantren

Menurut hemat penulis, prediksi menteri Agama ini sangat realistis. Indikasinya sudah mulai terlihat sejak ini. Dimana insan pesantren sudah banyak melakukan dekontruksi paradigmatis. Mereka sudah tidak lagi terkungkung dengan epistimologi klasiknya lagi. Dengan banyaknya santri yang membaca kitab – kitab kontemporer – yang mengakomodir berbagai kondisi sisio-kultural dan sosio – ekonomis modern – akan lahir santri yang mempunyai pemikiran moderat. Lahirnya tokoh sekaliber KH.A.M. Sahal  Mahfudz, KH Afifuddin, yang murni dari pesantren, menjadi bukti nyata bahwa pemikiran insan pesantren  sudah mulai maju. Jadi dikotomi tradisionalis dan modernis sudah tidak lagi relevan. Kondisi kehidupan secara multidimensional, turut membangun kontruksi pemikiran yang progresif. Sebab kesadaran berpikir objektif-rasional, telah menjadi kesadaran kolektif, tak terkecuali para ilmuwan sarungan.

Prof. Dr. Nurcholish Madjid, juga memprediksikan, bahwa pada satu atau dua dekade mendatang horison intlektul akan didominasi oleh kalangan Nahdlatul Ulama, khususnya alumnus pesantren. Amatan ini bukan tanpa dasar. Selama ini memang diakui bahwa santri adalah kolektor khazanah keilmuan klasik. Namun sayangnya, santri sangat lemah dibidang keilmuan-keilmuan modern. Mereka tidak memiliki literatur keilmuan kontemporer. Sebaliknya mahasiswa, -bukan bermaksud meremehkan- yang begitu lemah  keilmuan salafnya. Tetapi dengan banyaknya santri yang melanjutkan studinya diperguruan tinggi, mulai dari S-1 sampai S-3, baik didalam maupun diluar negeri, maka kekurangan-kekurangan  santri dibidang sains dan teknologi sudah mulai terjawab.

Inilah yang memberikan Harapan-harapan baru terhadap bangkit nya intelektual pesantren. Dengan demikian santri bukan sekedar sosok yang berpeci , bersarung dengan membawa untaian tasbih, bersimpuh diatas sajadah, melainkan ia hadir dengan membawa khazanah keilmuan salaf, dengan kesiapan yang prima untuk berdialog dan bersenyawa dengan perkembangan kekinian. Sebagai upaya untuk menyejahterakan rakyat, memakmurkan bumi, menegakkan kebenaran dan keadilan social yang dilandasi nilai-nilai secara universal.Bangkit-nya Intelektual Sarungan

Baca Juga:  Tashawwuf

Apa lagi, kini orang pesantren sudah mulai menghirup udara segar. Reformasi yang dimotori oleh para mahasiswa, memberikan berkah yang sangat besar pada pesantren. Yakni, duduknya santri dalam tampuk kepemimpinan. Jika di masa orde baru, orang pesantren (baca: warga NU) selau dimarginalisir dan di-ekskomunikasi, sekarang sudah bisa bergulat dalam dunia percaturan politik–ekonomis praktis. Secara moral, para santri –dengan sendirinya- termotivasi untuk selalu mengikuti perkembangan. Guna melanjutkan perjuangan pendahulunya dalam pentas kehidupan politik maupun ekonomi. Dengan demikian harapan tegaknya kebenaran dan keadilan akan –semoga- terealisir. Amin.

Leave a Reply