Gairah Jurnalistik

Manggisan.org – Gairah Jurnalistik

Sebagai kaum santri, tentu kita tahu dan sering membaca yang namanya Al-Quran. Alquran sebagai satu-satunya mukjizat Nabi Muhammad saw yang masih bisa kita saksikan dan nikmati hingga hari ini, mukjizat selainnya hanya ada pada jaman nabi. Kalau kita sedikit mengintip halaman sejarah, ternyata Alquran itu dulu ditulis. Iya…., ditulis diatas qirthas sesuai perintah Nabi Muhammad saw. Qirthas (kertas) pada jaman itu berupa apa saja yang bisa ditulisi diatasnya, misalnya, pelepah kurma, tulang dan kulit binatang, serta bebatuan pipih. Nabi menentukan juru tulis (Zaid bin Tsabit) dan hanya mengijinkan menulis ayat-ayat al-Quran saja, sedangkan perkataan Nabi (hadits) dilarang ditulis.

Sekarang kita mengenal Alquran dengan sebutan mushhaf. Kita bisa membaca dan menikmatinya, terkadang mendiskusikannya. Maka sangat layak jika kita menyebutnya sebagai sebuah kesuksesan dari gairah jurnalistik pada jaman itu.Gairah Jurnalistik

Sudah banyak para pemikir memuji-muji kegiatan jurnalistik. Kata-kata indah semisal ‘buku jendela dunia’, ‘ubahlah dunia dengan pena’, ‘setiap peradaban selalu dimulai dengan buku’, ‘buku teman yang paling setia dan tidak bawel’, ‘ke’alimanmu akan terkubur bersama jasadmu kecuali jika kamu menulis’, adalah contoh pujian untuk kegiatan jurnalistik. Ayat Alquran yang pertama turun menyebut-nyebut kata ‘bacalah’ dan ‘pena’ sangat berkaitan dengan dunia jurnalistik (tulis menulis).

Tiga paragraf diatas sudah cukup menjadi dasar sebagai titik pacu untuk menggairahkan kegiatan jurnalistik di pondok pesantren Fatihul Ulum Manggisan Jember. Bukan latah terhadap pesantren yang sudah mendahului dalam bidang ini, tetapi kita punya landasannya sendiri.

Adanya gerakan baru yang baru saja disepakati berupa lomba artikel santri yang diambil pemenangnya tiap bulan, merupakan titik pacu yang pas dan tepat. Kegiatan ini secara semarak disambut oleh beberapa santri dengan mengirimkan artikelnya kepada panitia. Tidak disangka, ternyata tulisan mereka cukup panjang dan memukau. Ini menjadi bukti bahwa sebagian santri punya minat dalam dunia ini.

Baca Juga:  Always Together (Kebersamaan)

Bukti lainnya adalah mereka bertanya bagaimana menulis yang benar. Kalau kita baca buku-buku tentang bagaimana kiat-kiat menulis, sebagian besar menyarankan agar kita langsung saja menulis sesuka hati tanpa terikat dengan peraturan-peraturan kepenulisan. Tips ini memang jitu dan bisa kita coba. Hanya saja tidak akan pernah menang jika diikutkan lomba. Setelah kita terbiasa menuangkan ide-ide kita dalam bentuk tulisan ‘amburadul’, kita bisa mulai sedikit mematuhi aturan kepenulisan. Dengan begitu kita diharapkan mampu menulis banyak dan panjang dengan kaedah kepenulisan yang tepat.Gairah Jurnalistik

Tiga langkah awal bisa dilakukan untuk menjadi dan menciptakan penulis yang baik;

Pertama, menambah koleksi buku perpustakaan tentang cara mudah menjadi penulis untuk menjadi referensi para penulis pemula.

Kedua, shohih sekali jika diagendakan pelatihan tingkat lokal dalam bidang ini. Walau belajar menulis secara otodidak mungkin bisa, tetapi jika ada pelatih yang sudah berpengalaman akan lebih melejitkan potensi santri dalam dunia ini.

Ketiga, adakan komunitas Santri Pena Creativa. Seniman sebesar Habiburrohman Asshirozy, sohibul Ayat-Ayat Cinta, ternyata alumni komunitas FLP (Forum Ligkar Pena) besutan Helvy Tiana Rosa. Sekali lagi, bukan karena latah dengan pesantren lain yang sudah mendahului dalam bidang ini, tetapi karena kita punya landasannya sendiri.Gairah Jurnalistik

Orang mengatakan, banyak seorang alim yang sangat menguasai suatu bidang ilmu, tetapi ketika mencoba menerapkan dalam bentuk tulisan, gagasan mereka tidak muncul. Orang yang lainnya mengatakan, terkadang seseorang mampu menangkap dengan baik semua ilmu yang didengarnya, tetapi ketika mencoba memperdengarkan (mengajarkannya) kepada orang lain, dia kehilangan cara dan seninya. Kita berharap semoga sashtri Fatihul Ulum Manggisan, suatu saat nanti, memunculkan ahli sashtra yang ternama, mirip-mirip Imam Ibnu ‘Aqil atau mungkin sama. Aamiin.

Baca Juga:  Kesibukan Hati Dalam Hidup

 

By: Ust.Syafi’i ,kaliboto jatiroto, Teacher of Fatihul Ulum Manggisan

One Response

  1. Fathul Qorib December 14, 2018

Leave a Reply