Peran Pesantren Dalam Masyarakat

Manggisan.org – Peran Pesantren Dalam Pemberdayaan Masyarakat

Pesantren, sejak awal berdirinya memiliki sejarah sejarah yang mengakar dalam dinamika kehidupan masyarakat, terutama masyarakat desa, Selain berfungsi sebagai institusi pendidikan yang bersifat otonom, pesantren juga berfungsi sebagai agen perubahan sosial dan budaya.

Kita bisa melihat bagaimana Wali Songo melakukan proses pemberdayaan masyarakat berbasis pesantren dengan tidak hanya mengajarkan aqidah dan syari’ah secara tekstual, akan tetapi pemberdayaan masyarakat untuk meng-aktualisasikan ajaran agama itu dalam kehidupan real/nyata masyarakat tidak terlupakan.Peran Pesantren Dalam Masyarakat

Setelah periode Wali Songo, posisi pesantren sebagai agen perubahan sosial dengan kekuatan kharisma kyai sedikit menyempit hanya begerak pada wilayah pemikiran (pendidikan) dan seruan orang sehingga tak ayal bila sebagian orang menilai pesantren bisanya cuma menarik sambungan untuk pembangunan fasilitasnya tanpa bisa membangun masyarakat secara konkrit, kyai pun diasumsikan hanya tukang do’a saja dan tidak berbeda dengan paranormal.

Pada perjalanan selanjutnya, sejak sekitar tahun 70-an pesantren lebih memperluas perannya secara langsung dalam proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dalam berbagai bidang.

Ditengah perubahan sosial yang harus berkembang, pesantren memainkan peran lenturnya dengan tetap mengacu pada pola lama yang memang masih harus dipertahankan, dan disatu sisi pesantren melakukan berbagai perubahan yang memang diperlukan sebagai jawaban terhadap tuntutan perubahan masyarakat yang harus dicapai. Keterlibatan pesantren dengan gerakan pemberdayaan masyarakat tumbuh dan berkembang seiring dengan mengedepannya isu lembaga swadaya masyarakat yang memasuki bumi dan prilaku para aktivis pengembangan masyarakat.

Departemen agamapun merespon berbagai pemikiran tentang pengembangan dan pemberdayaan masyarakat melalui pesantren. Sehingga muncullah berbagai dinamika pesantren yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat, misalnya pesantren Sidogiri dengan optimalisasi bank mu’amalat, pesantren Nurul Jadid yang getol dengan pendampingan masyarakat (petani dan nelayan), pesantren salafiyah Syafi’iyah dengan pemberdayaan ekonomi menengah kebawah, pesantren Tebu Ireng dengan pusat informasinya dan masih banyak lagi pesantren yang bergerak dalam bidang pemberdayaan dan pendampingan masyarakat.

Baca Juga:  Rindu Pesantrenku

Secara realistis ternyata pesantren telah memasuki babak dalam peroses tranformasi sosial, jika dahulu hanya terkenal dengan kitab klasik (kitab kuning) yang kemudian berubah dan menambah inovasi baru dengan menyajikan pendidikan umum sebagai upaya untuk menyeimbangi dengan pendidikan diluar pesantren. Dan kemudian bertambah dan berkembang menjadi agen pemberdayaan masyarakat.

Setiap proses pemberdayaan memerlukan tindakan aktif subyek untuk mengetahui bahwa obyek meminta kemampuan untuk berkembang jika diberi kesempatan sedemikian rupa untuk berkembang. Hanya saja terkadang tekanan faktor ekternal memperbarui manusia atau sekelompok manusia tersebut untuk tidak dapat berkembang atau mereka tidak memiliki cukup kesadaran untuk memahami apa sebenarnya potensi yang dimiliki.

Keterlibatan pesantren dalam pemberdayaan masyarakat terjadi ketika tuntunan-tuntunan terhadap peran pesantren pada masyarakat luas menjadi mengemuka, maka pesantren tidak hanya dituntut sebagai lembaga pendidikan dan kajian keagamaan, akan tetapi pesantren dituntut untuk menjadi wadah bagi pemberdayaan dan pengembangan masyarakat di segala sektor kehidupan.

Kemandirian dan keterlibatan pesantren dalam proses pemberdayaan dan pengembangan pesantren patut dicontoh oleh lembaga-lembaga sosial lainnya. Namun demikian fungsi pesantren sebagai agen pemberdayaan masyarakat, perlu ditingkatkan dan dikembangkan lebih jauh. Perubahan sistem pemerintah dari sentralisasi menjadi desentralisasi, memberikan peluang besar kepada pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.

Dalam hal ini, potensi pesantren sangat besar dengan peran para tokoh atau elit pesantren sebagai panutan masyarakat adalah menjadi modal utama dalam rangka membangun kebersamaan dan memberikan penyadaran terhadap masyarakat, guna tercapainya dan terciptanya tatanan masyarakat ideal, sosial, budaya dan pendidikan itulah yang seharusnya dilakukan oleh pesantren, bahwa pesantren bukan lagi sebuah lembaga yang asyik berwacana ria tanpa aksi konkrit, akan tetapi diharapkan membuka diri guna ikut serta dalam pemberdayaan dan peningkatan taraf hidup masyarakat.

Baca Juga:  Sejarah Fatihul Ulum Daerah C

 

Sumber : Jember Istinbat

Leave a Reply