Untuk kita yang “Merdeka”

Manggisan.org – Untuk Kita Yang Merdeka

Siapapun pasti setuju dan menerima kalau dikatakan, “kematian sebuah bangsa adalah ketika kebebasannya telah dikebiri” Mengapa demikian? Ya, karena ketika kebebasan dibelenggu, maka apakah ada yang lebih berharga untuk diimpiakan dalam hidup ini melebihi kematian?

Bebas (baca: merdeka) adalah fitrah, persembahan dari sang khaliq kepada seluruh umat manusia di muka bumi. Siapapun berhak untuk menikmati hidup bebas, tanpa seorangpun yang mengganggu privasinya. Secara harfiah, arti dari kemerdekaan adalah kebebasan dalam segala dimensi kehidupan; bebas menentukan sikap, berorganisasi, berbicara, menulis, dan lain sebagainya, selagi tidak mengganggu kebebasan orang lain.Untuk kita yang "Merdeka"

Bagaimana dengan kita dan dengan bangsa kita, yang telah “merdeka” ini? Sejarah hanya mencatat peristiwa bahwa, pada 17 Agustus 1945 Bung karno-Hatta, atas desakan  para pemuda yang menculiknya di rangesdengklok, memproklamasikan kemerdekaan republik Indonesia.

Sejak saat itu rakyat Indonesia mepunyai harga diri di mata dunia, karena telah bebas dari perbudakan Negara asing. Tapi kemudian, sejarah juga mencatat perbudakan dengan bentuk lain yang terjadi di Negara kita.

Kemerdekaan rakyat, untuk kedua kalinya, telah dirampas, tidak oleh jepang atau belanda atau negara asing lainnya, tapi oleh penguasa tiran negara kita sendiri; kehidupan terbungkam dan kemudian kita menyimpan sejuta harapan dan optimisme yang meluap—barangkali—ketika mantan presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut kata merdeka yang kedua kelinya bagi bangsa Indonesia pada pidato pertamanya, tiga tahun yang lalu. Tapi, apa yang terjadi kemudian dan hingga saat ini? Terlalu naif kalau kita mengatakan bahwa kita, bangsa yang menghuni zamrud katulistiwa ini, betul-betul telah merdeka.

Sebab pada dasarnya, kemerdekaan bukanlah semata bebas dari segala keterlindasan—siapapun pelakunya, dari bangasa asing atau penguasa tiran dari bangasa sendiri. Merdeka juga bukan berarti kita, berbagai individu, kini bisa mendapatkan informasi sebebas-bebasnya, atau berhimpunan dalam dan membentuk organisasi apapun.

Baca Juga:  Peran Pesantren Dalam Masyarakat

Lebih dari itu, merdeka mestinya adalah keadaan yang juga memungkinkan kita untuk menentukan dan mewujudkan apa yang secara koleksi memang kita inginkan bersama. Merdeka juga bukan hanya berarti lahirnya kata-kata yang pernah terucap dari mulut sorang Umar ra. Ketika putra gubernur Mesir, Amr bin Ash bertindak semana-mana kepada rakyat kecil, “Sejak kapan anda telah memperbudak manusia? Padahal mereka di lahirkan oleh ibunya dalam keadaan merdeka”.

Merdeka tidak hanya hal-hal yang bersifat madiyah (material), tapi juga dari segala bentuk yang ma,nawiyah (moral). Syekh Musthafa al-Ghalayain mengartikan kemerdekaan sebagai langkah dan usaha untuk membersihkan jiwa, baik jiwa indivudu atau kelompok, dari sifat-sifat syaithoniyah serta berpedoman kepada hal-hal yang utama. “Seorang tidak dikatakan merdeka kecuali jika jiwanya telah bersih dari perilaku, berkemauan tinggi untuk bekerja sesuai dengan tuntunan sunnah ilahiyah”. Lebih lanjut beliau menegaskan, tidaklah suatu golongan atau bangsa dikatakan merdeka apabila rakyatnya masih diperbudak oleh keinginan penguasanya, “sangat mengherankan, orang mengaku merdeka padahal ia selalu di tuntun oleh hawa nafsunya, digiring dan direndang laksana bola oleh para pemimpinnya. Apakah mereka dikatakan merdeka?” dalam bahasa kita, inilah yang di sebut perbudakan dalam wujud yang lain. 17 Ramadlan 8 hijriah, 1415 abad yang silam, sebuah kemerdekaan unik diproklamikan di mekah. Ini mungkin kemerdekaan yang sesungguhnya. Ketika seorang penakluk datang menyemaikan rasa takut, benci dan putus asa disegala katuk kalbu penduduknya, tapi beliau malah mengatakan, izhabuu fa antum al-thulaqo’ “kalian bebas pergi karena kalian merdeka”. Kalimat ini adalah suatu yang unik dan tidak pernah terjadi: seorang penakluk daatang dengan kata merdeka.

Kemerdekaan sudah begitu tepat di artikan dalam posisi fitrahnya, bahwa pada segi fisik mekah saat itu mungkin sudah takluk total terhadap otoritas Madinah, tapi kenapa kemudian Rasulullah mengatakan “kalian merdeka”.

Baca Juga:  Saat Emosi

Di sini, mungkin, merdeka dalam persepsi al-Ghulayain di atas, menemukan ilustrasi sejarahnya. Sebab kemerdekaan pada hakekatnya bukanlah kebebasan fisik, tapi bagaimana sebuah nurani kembali menemukan fitrahnya kendati dengan terpaksa. Dua ribu masyarakat Mekah yang menyatakan masuk Islam saat itu, mungkin juga karena faktor otoritas politik, bukan sepenuhnya karena kesadaran. Namun, itu pula yang kemudian membawa mereka kembali ke fitrah asalnya seperti yang ditanamkan Ibrahim as. Ditanah gersang itu.

Dalam konteks ini, kemerdekaan moralitas berarati adalah sebuah keterlepasan jiwa dan pemikiran kita dari factor-faktor yang bisa mengekang kebenaran, semisal fanatisme dan subyektifisme.

Masyarakat Mekah (dan Arab pada umumnya), sebagaimana kita tahu, menolak agama yang dibawa Rasulullah bukan karena mereka tadak percaya dengan kebenarannya, tapi lebih disebabkan oleh kungkungang fanatisme kenenek-moyangan dan subyektifisme mereka. Ini misalnya sangat jelas terlihat dalam komintar seorang pendukung Musailamah al-Kadzdzab, bahwa mengikuti seorang pembohong dari suku dan aliran sendiri lebih baik dari pada mengikuti Muhammad yang sangat jujur tapi dari aliran dan suku yang lain.

Kemerdekaan moralitas terkadang memang harus di wujudkan melalui pemaksaan, karena moralitas adalah suatu bentuk yang sangat sensitif lingkungan. Moralitas tidak sepenuhnya terwujud dari kesadaran, sebagaimana ia juga bisa tumbul akibat faktor-faktor emosional.

Sayyidina Hamzah ra., tokoh sahabat terkenal, jurteru mendapatkan kemerdekaan moralitasnya karena kemarahannya terhadap Abu jahal yang terus menerus mengganggu Muhammad, keponakannya Sebagaimana pula Umar bin Khaththab ra. Yang menemukan kebenaran melalui rasa ibanya terrhadap Fathimah, sang adik.

Arti dari semua hal di atas bahwa bangsa Indonesia mesti memahami kemerdekaan dalam paradigmanya yang baru. Kemerdekaan bukan berarti membiarkan takyat membuat kecenderungan sebebas-bebasnya yang justeru kontraproduktif. Tapi kemerdekaan mesti di arahkan pada jalurnya, bukan hanya dengan menunggu kesadaran kolektif yang merupakan utopia. Hidup Indonesia!.

Leave a Reply