Tashawwuf

Manggisan.org – Tashawwuf

Lintas Sejarah Perjalanannya

Tashawwuf adalah kata dasar (masdar) dari kata kerja tashawwafa, yang berarti berpakaian wol atau bulu domba.

Menurut AL-Qusyairi, pemakaian istilah shufi atau tashawwuf, tidak ada qiyas dan isytiqaq-nya, tak ubahnya sebagai laqab atau gelar. Yang jelas, istilah ini bermula dari serangkaian kasus kehidupan esoterik orang-orang zuhud terdahulu. Sebagian ulama’ besar berpendapat bahwa tashawwuf berasal dari kata shauf, yang artinya wol atau kain kasar yang berbulu. Pendapat ini cukup rasional, karena di zaman dahulu, orang-orang sufi banyak yang gemar menggunakan pakaian yang terbuat dari kain-kain kasar atau bahkan kulit binatang, sebagai lambing kesahajaan dan kesederhanaan hidup, berbeda dengan pakaian kaum berada. Bahkan Abu Nasr at-Thusi, tokoh sufi fundamentalis, memberikan statemen bahwa kebiasaan memakai pakaian wol dan kain kasar merupakan warisan dari para nabi dan orang-orang saleh dahulu, sebagai refleksi dari kesahajaan hidup.

Pendapat lain menyebutkan bahwa istilah tashawwuf di ambil dari sejarah kelompok sahabat nabi yang hidup miskin, zuhud dan rajin beribadah. Waktu merekahanya di habiskan di pelataran masjid Nabawi. Mereka di sebutahl as-suffah. Maka orang yang gaya hidupnya setalitiga uang dengan gaya hidup ahl as-suffah di sebut dengan sufi.Tashawwuf

Ada juga yang mengatakan bahwa tashawwuf di ambil dari kata shafa’ yang berarti suci. Hanya, secara teks, ketiga pendapat ini cukup jauh dari kebenaran (?) maski dari sisi makna masih ada benang merah (lihat jami’ ushul al-auliya’/349). Mengesampingkan manakah yang lebih benar dalam pengambilan kata tasawuf ini, yang jelas fenomena kehidupan orang-orang sufi memiliki karakteristik sebagaimana di atas. Dan ini sesuai dengan definisi para ulama.

Baca Juga:  Santri Pemenang

Sebagian ulama mendefinisikan, tashawwuf adalah memutus keinginan-keinginan nafsu, meninggalkan dunia secara keseluruhan. Definisi ini berdasarkan delapan sifat orang-orang sufi,

  1. Dermawan, yang tercermin dari sifat nabi Ibrahim as.
  2. Ridla, sifat nabi ishaq as
  3. Sabar, sifat nabi Ayyub as.
  4. Isyaroh (sasmitatuhan, atau pengetahuan intuitif), sifat nabi Yahya as.
  5. Gharabah (pengasingan diri dalam kesunyian) sifat nabi Yusuf as.
  6. Berpakian bulu, sifat nabi Musa as.
  7. Siyahah (mengembara), sifat nabi Isa as.
  8. Fakir, sifat nabi Muhammad saw.

Ta’rif di atas sama dengan pendapat imam al-Ghazali, bahwa tashawwuf adalah mengkonsentrasikan hati hanya kepada Allah, tanpa memandang selain-Nya (dunia) (lihat, jami’ ushul al-Auliya’/349-340-342).

Sebenarnya tashawwuf atau Sufism, dalam istilah orang Eropa, baru muncul pada abad ke -2 H. Sebelumnya, hanyalah merupakan aktifitas ritual biasa dengan gaya hidup yang sederhana. Orang-orang yang telah menghabiskan waktu nya untuk beribadah, berkontempelasi, merupakan dunia dengan segala kemewahannya, hanya di sebut zahid.

Sejak masa nabi Muhammad atau bahkan sebelumnya, kehidupan zuhud memang sudah ada. Terbukti, nabi sebelum di angkats ebagai rasul, selama beberapa hari, meninggalkan istrinya, Khadijah ra, untuk berdzikir, tafakkur dan beribadah di gua Hira, sampai beliau di angkat sebagai rasul. Titik klimas kehidupan zuhud nabi terjadi ketika isra-mi’raj, di mana beliau bisa berkomunikasi langsung dengan Allah swt.

Sejarah kehidupan nabi inilah yang kemudian menjadi titik tekan utama dalam kehidupan tashawwuf yang berkembang sampai sekarang.  Ali al-Murshifi, mengatakan, tashawwuf bukan hal yang lebih (baca:baru) dalam sunnah muhammadiyah, sebab tashawwuf memang di ambil dari sunnahnya.

Demikian juga kehidupan para al-khulafa’ ar-rasyidin yang empat, dan kehidupan para ahl as-shuffah yang banyak menjadi perhatian para tashawwuf. Di antaranya adalah Abu Hurairoh, Abu Dzarr al-Ghifari, Salman al-Farisi, Mu’adzbin  jabal, Imran bin Husain, Abu Ubaidillah bin jarrah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dll.

Baca Juga:  Bangkit-nya Intelektual Sarungan

Abu Dzarr, salah satu di antara ahl as-shuffah, yang dikenal sebagai sosok sosialis, tampil sebagai prototipe fakir yang sejati. Dia tidak memiliki apa-apa, dan sepenuhnya dipasrahkan kepada sang rabb.

Pada fase berikutnya, di masa tabi’in (sekitar abad ke- 1 dan ke- 2), seruan hidup zuhud, sederhana, saleh dan tidak tenggelam dalam buaian nafsu, terus di lakukan oleh para tokoh-tokoh tabi’in. Kondisi sosio-politik yang labil, konflik-intrikpolitik antar kelompok membuat para tokoh tabi’in terpanggil untuk memyerukan gaya kehidupan rasul dan para sahabatnya.

Akhirnya mereka mulai merenggangkan diri dari hidup mewah. Dan sejak itulah kehidupan zuhud mulai menyebar luas di kalangan masyarakat.

Diantara tokoh zuhud di era tabi’in adalah Sa’id bid Musayib (w. 94 H.), Hasan al-Bashri, Malik bin Dinar, Sufyan as-Tsuwaridll.

Pada akhir abad ke-2 H. peralihan dari kehidupan zuhud menjadi tashawwuf sudah mulai tampak. Analisis-analisis singkat tentang kesufian sudah mulai dilakukan. Para kaum sufi, mulai memperhatikan aspek-aspek teoritis, dalam rangka pembentukan sikap dan perilaku, hingga akhirnya, pada abad ke-3 H. tashawwuf menjadi sebuah disiplin ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang etika keagamaan.

Pembahasan luas tentang akhlak atau etika, mendorong untuk mandalami studi psikologis dan gejala-gejala kejiwaan serta pengaruhnya pada prilaku manusia. Dengan demikian, dikalangan para sufi, ilmu tashawwuf telah terbentuk, dengan kajian yang jauh berbeda dengan fikih, baik dari sisi objek maupun metodologi. Tokoh-tokoh sufi, seperti As-Sari As-Saqathi, Al-Junaid, dan Al-Kharraz mulai mengerjakan ilmu tashawwuf, baik yang sifatnya teori maupun praktik kepada murid-muridnya.

Sementara itu, juga ada orang-orang sufi yang mirip dengan mistisisme dilingkungan luar Islam, seperti dalam Hinduisme, atau kependetaan Kristen. Dalam aliran ini berkembang teori panteisme yang mengarahkan tashawwuf pada kebersatuan hamba dengan Tuhan, yang dikenal dengan istilahal-hulul, al-ittihad. Seperti Abu Yazid al-Busthami, beliau sering mengaku as-Sakr (mabuk ketuhanan), fana (peleburan diri) danal-ittihad (bersatu denganTuhan). Bagi Al-Busthami, orang sufi yang sudah begitu dekat dengan cahaya ketuhanan akan lebur dan bersatu dengan-Nya. Dalam kondisi itu, kadang kala muncul kata-kata ganjil, seperti ucapan Al-Busthami sendiri. “Sesungguhnya aku adalah Allah, tidak ada Tuhan kecuali aku, maka sembahlah aku. Maha suci Aku”.

Baca Juga:  Mengapa aku malas belajar?

Sebenarnya, apa yang mereka ucapkan ketika sedang sakr, bukan perkataan yang sendiri, tetapi firman Tuhan melalui mulut hamba-Nya, sebagaimana firmanTuhan memalui pohon, ketika berkomonikasi dengan nabi Musa as (lihat, JamiUshul al-Auliya, 334/).

Di pertengahan abad ketiga, lahir seorang sufi yang mungkin dianggap tongkoh controversial dalam sejarah tashawwuf. Dia menemui ajalnya di tiang gantungan. Husain bin Manshur Al-Hallaj (244-309 H).

Teori tashawwuf yang di kembangkan Al-Hallaj adalah al-hulull, sebuah paham yang menyebutkan bahwa Tuhan menempati (baca: bersemayam) dalam tubuh manusia, setelah sifat-sifat manusiawinya dihilangkan. Dalam kondisi itu, ia sudah tidak merasakan wujud dirinya sendiri, yang wujud hanyalah Allah semata. Dia pernah mengatakan “Saya adalah Allah. Tidak ada dalam jubahku kecuali Allah. Alangkah Agung nya aku” (Thabaqat al-Auliya, 307-311)

 

Sumber : Jember Istinbat

Leave a Reply