Keutamaan Ilmu

Manggisan.org – Keutamaan Ilmu

Ilmu adalah suatu perkara yang wajib dituntut bagi semua manusia karena tanpa ilmu kita akan sesat dan menyesatkan, semua perkara itu harus dilandasi dengan ilmu. Tidak mungkin mengerjakan sesuatu tanpa ilmu. Dalam kehidupan dizaman ini semua orang akan hebat karena ilmu.

Dalam nadzom alaa la (Ta’limul mutaallim) dijelaskan, bahwasanya:

فَسَادٌ كَبِيْرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ  #  وَ اَكْبَرُ منْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكُ

هُمَا فِتْنَةٌ فِي الْعَالَمِيْنَ عَظِيْمَةٌ # لِمَنْ بِهِمَا فِيْ دِيْنِهِ يَتَمَسَّكُ

 

“Orang alim yang durhaka bahayanya besar, tapi orang bodoh yang tekun beribadah justru lebih besar bahayanya di bandingkan orang alim tadi. Keduanya adalah penyebab fitnah dikalangan umat, dan tidak layak dijadikan panutan.”keutamaan Ilmu

Ulama’ dihormati karena ilmu, kyai di segani karena ilmu, dosen di hormati oleh mahasiswanya karena ilmu, beigtu pula guru dan ustadz. Semakin banyak ilmu yang kita miliki maka kita akan jauh dari kesesatan dan kesalahan. Begitu pentingnya ilmu sehingga mulai dari kecil hingga dewasa kita selalu di tuntut untuk berilmu.

Ilmu itu wajib dicari sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda:

طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ

“Mencari ilmu sangat wajib atas setiap muslim laki-laki dan perempuan”

Dari sini kita dapat mempelajari dari kisah Nabi Sulaiman AS, bahwasanya ketika beliau di beri tiga pilihan berupa harta, tahta, dan ilmu. Diantara ketiganya Nabi Sulaiman AS memilih ilmu, sebab beliau tahu dengan ilmulah beliau dapat memiliki selain ilmu itu. Dan terbukti dengan memilih ilmu beliau mendapatkan tahta dan juga harta yang berlimpah tiada tara.

Mencari ilmu haruslah dengan perjuangan, usaha yang keras. Barang siapa yang mencari ilmu maka harus berani menghadapi rintangan yang menghadang, harus bersusah payah memecahkan butir-butiran masalah sebisa mungkin. Jika tidak mampu memecahkan suatu perkara maka bertanyalah. Kita harus menaklukkan kebodohan, jangan sampai kebodohan menguasai kita.

Baca Juga:  Tips dan Perjuangan Pertama Kali di Pesantren

Dalam nadzom alala di jelaskan, bahwasanya

أَخُو الْعِلْمِ حَيُّ خَالِدٌ بَعْدَ مَوْتِهِ * وَأَوْصَالُهُ تَحْتَ التُّرَابِ رَمِيْمُ

وَذُو الْجَهْلِ مَيْتٌ وَهُوَ يَمْشِى عَلَى الثَّرَى # يُظَنُّ مِنَ اْلاَحْيَاءِ وَهُوَ عَدِيْمُ

 

“Orang yang berilmu akan tetap hidup setelah matinya walaupun tulang-tulangnya telah hancur dibawah bumi, sementara orang yang bodoh telah mati walaupun masih berjalan di atas bumi, disangakanya dia hidup padahal dia telah tiada.”

Sejarah membuktikan bahwasanya ilmuan-ilmuan yang telah tiada (meninggal dunia/wafat) namun namanya masih terasa harum di kalangan masyarakat. Itu semua karena ilmu yang dapat menerangi kehidupan manusia. Seperti halnya para sahabat Nabi Muhammad SAW, Kholifah, dan para empat Madzhab. Nama beliau semua masih tetap hidup walau sudah tiada. Namun mencari ilmu tidak boleh dengan tujuan agar nama kita abadi. Ilmu hanyalah alat agar kita bisa mengenal diri sendiri, bahwasanya diri kita adalah hamba yang lemah tiada mempunyai kemampuan apapun tanpa rahmat dari ALLAH subhanahu wata’ala. Hamba yang harus melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

“Keinginan tanpa perjuangan adalah hayalan kosong”
“Perjuangan tanpa kerja keras adalah kebohongan”
“Kerja keras tanpa pengorbanan adalah penipuan”

“Belajarlah kemudian Amalkan”

 

By: Fathul Qorib, Bilik Gozali, Santri Fatihul Ulum Manggisan.

Leave a Reply