Hari Pertamaku Dipesantren

Manggisan.org Sangat tidak betahlah yang kurasakan saat hari-hari pertama di pesantren Fatihul Ulum Al-Mahfudz Manggisan ini.  Dalam berbagai suasana pun masih saja kulampiaskan dengan menangis. Baik diwaktu shalat, disaat sekolah, atau disaat mengaji bersama waktu magrib dan isyak.hari pertamaku di pesantren

Tangisku akan semakin membahana saat kedatangan kedua orang tuaku untuk menjenguk.

Kasihan sebenarnya beliau berdua, yang harus datang padaku dan hanya kusambut dengan tangisan dan beberapa teriakan yang kurang sopan kalau saat ini kupikir.

Hingga pernah suatu hari ketika orang tuaku datang lagi menjengukku untuk beberapa kalinya. Aku memaksa beliau berdua untuk sudi memberhentikanku dari pesantren Fatihul Ulum Al-Mahfudz ini.

‘’ibu,’’ kataku dengan nada setengah oktaf ‘’ pokoknya aku mau berhenti sekarang ini, pokoknya aku harus pulang sekarang juga’’ pintaku dengan air mataku bercucuran.

Ibuku mendesah dalam dalam. Jelas sekali beliau sangat berharap agar aku bisa betah di pesantren Fatihul Ulum Al-Mahfudz ini.

‘’sayang’’ kata beliau lirih dengan nada kalah ‘’kamu disini kan mencari ilmu. Hal seperti ini merupakan hal biasa terjadi’’

Air mataku memang sengaja kupasang untuk lebih bercucuran. ‘’tidak, bu, aku tidak mau lagi disini’’ sengitku.

Rupanya perdebatan kami berdua mengundang seorang pengurus pesantren putri mendatangi kami.

Pengurus itupun cerita kalau adiknya dulu sama persis dengan aku. Minta pulang, sedangkan baru beberapa hari di Pondok Pesantren. Tips dari dia, dengan banyak-banyak berdo’a supaya di beri kekuatan kesabaran dan lebih tabah lagi. Hanya saja yang membuat aku lebih tergerak saat dia cerita kalau doa santri itu cepat terkabul.

Waah. . ‘cepat terkabul’’ batinku. Terbayang dalam pikiranku bakalan minta apa saja nantinya. Pikir pikir untuk persiapan masa depanku juga.

Ibuku pun menyemangatiku ‘’nah kan !. Kalau disini doamu bisa cepat terkabul, kamu mau tidak do’amu terkabul’’

Aku mengangguk pelan.

‘’apa ada saran yang lain?’’ tanya ibuku lagi.

‘’iya. Masih ada !’’ jawab sang pengurus pesantren kalem.

‘’yaitu kamu jangan suka ngambek, soalnya orang yang seperti itu akan di benci teman-teman bilikmu’’

Kalimat di benci teman, memang semenjak dulu bikin aku alergi. Dan aku antipati dengan hal itu.

‘’tidak mbak. ‘’ tambahku ‘’aku gak mau di benci teman-temanku’’

‘’makanya berusahalah untuk lebih sabar, dipesantren itu disamping ilmu yang dituntut. Juga melatih kesabaran dan ketabahan ‘’

Aku jadi teringat sama buku-buku yang pernah kubaca. Bahwa kesabaran dan ketabahan adalah kunci kesuksesan para Nabi.

Melihat tingginya harapan kedua orang tuaku. Membuatku berkomitmen untuk memenuhi harapan beliau berdua.

Oleh: Santri Fatihul Ulum Manggisan.

Leave a Reply