Impian Hidup

Manggisan.org – Dari Suami istri yang berprofesi sebagai pedagang yang telah melahirkan saya pada tahun 1998. Dari tiga bersaudara akulah yang bungsu. Aku menempuh pendidikan di luar pesantren mulai dari pendidikan dasar sampai menengah pertama, aku mengalami masa yang mana lain juga mengalami yaitu masa remaja pada waktu kelas 2 Smp. Masa remaja adalah masa mencari jati diri dengan melawan ego yang masih tinggi, orang-orang berkata seperti itu. Sifat nakal yang tinggi itulah yang bisa membawaku pada hal-hal negatif. Di saat itu aku selalu memaksakan diri untuk memutuskan pendidikan sekolahku.Impian Hidup

Selama tahun aku mengalami kesakitan dan perjuangan untuk menghadapi penyakitku. Dokter spesialis psikis RS. Dr. Soebandi, Jember, menyatakan bahwa aku sedang terjangkit gangguan saraf. Pada akhirnya selama setahun juga aku harus menjalani pengobatan dan beberapa terapi. Bahkan, hingga kami datangi “orang pintar”.

Ada seorang mbah di Banyuwangi aku datangi dan menempuh pengobatan alternatif disana. Ternyata dia tidak mengobatiku secara dhahir, akan tetapi dia hanya berkata kepadaku “penyakit putri bapak ini tidak bisa sembuh kecuali di nikahkan, tidak ada gunanya pendidikannya di lanjutkan. Nikahkan saja!”

Seusai aku mendengarkan perkataan si mbah itu, perkatan itulah yang bisa menjadikan semangat untuk bangkit dan membuktikan bahwa perkatan si mbah itu salah. Aku bersusah payah untuk mencari informasi mengikuti ujian kejar paket B yang setara SMP.

Saudara dari ibuku yang ada di kota lain menawarkan kepadaku untuk melanjutkan pendidikan sekolah di tempat ia mengajar. Tanpa berpikir terlalu penjang, tawaran itu aku langsung menyutujuinya. Aku berimigrasi dan aku sekolah sampai aku lulus SMP disana. Sekarang saya sudah memperoleh apa yang saya inginkan. Memang kehidupan sangatlah membutuhkan perjuangan dan usaha yang sangat maksimal menuju kesuksesan.

Setelah lulus SMP, aku mulai bingung memikirkan kemana saya lanjutkan sekolahku ini. Aku harus mempunyai kepribadian yang baik. Dari hal itulah aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku di pesantren pilihanku sendiri. Pesantren yang ada di kecamatan tanggul bagian dari kotaku.

Permulaan menjadi santri, ketidaknyamanlah yang aku rasakan. Mungkin karena lingkungannya yang masih belum beradaptasi dengan keadaan saya. Hingga selama 3 bulan di pesantren, aku masih saja tetap merasakan hal aneh dan tidak nyaman. Keadaanku sekarang aku beritahu ibu. Akan tetapi apa jawaban ibuku: “Nak, dulu kamu telah berjuang melawan sakitmu dan selalu berusaha untuk menyelesaikan pendidikanmu, dan akhirnya kamu bisa. Hidup ini penuh dengan perjuangan, dan kamu hanya memerlukan perjuangan sedikit lagi untuk mencapai final”.

Pada saat itulah aku mulai bisa merenung dan memantapkan hati. Perkataan ibu itu sungguh sangat menggetarkan hatiku dan hingga sekarang aku tetap bertahan di pesantren ini.

Hidup harus diperjuangkan. Ketika berharap menjadi pribadi yang baik tetapi tidak ada usaha maka itu sia-sia. Life is a dream. Hidup adalah impian. Impianku harus ku usahakan tercapai. Pesantren, tempat mengukir mimpiku. Tidak ada alasan untuk tidak betah di pesantren, semoga suatu saat nanti aku bisa menjadikan kepribadian yang lebih baik.

By: Santri Fatihul Ulum Manggisan.

Leave a Reply