Agengseh

Manggisan.org – Tahun baru islam (1 Muharram) sudah dianggap tahun yang keramat oleh kalangan masyarakat Islam zaman sekarang. Zaman dulu, saat tahun baru Islam, kaum muslim hanya memperingatinya dengan cara berpuasa, berdoa, memperbanyak taubat, berdzikir, menghindari perbuatan maksiat dan besedekah. Semua itu dilakukan baik dikalangan masyarakat umum atau pondok pesantren.

Sekarang? Udah beda. Dikalangan masyarakat merayakannya dengan banyak cara. Misalnya, Pawai Obor, Tirakatan, Nagulag, Sepak Bola Api dan masih banyak lagi. Dikalangan pondok pesantren lain lagi. Semisal disebuah pondok pesantren di daerah Jawa Timur ini nih. Para santri mempunyai cara tersendiri saat datangnya bulan Muharram ini (cara ini hanya dilakukan oleh kalangan santri putra). Mereka menamainya dengan sebutan ‘ Agengseh ’. Kata Agengseh sendiri diambil dari bahasa Madura yang artinya mempertajam -Karena santrinya mayoritas orang Madura-. Ada juga santri yang menjuluki ‘ agengseh ’ ini dengan julukan ‘Malam Pembuatan Jimat’.agengseh

Saat malam 1 Muharram (tahun baru Islam) semua doa atau amalan dibaca semalam suntuk di malam itu atau para santri menyebutnya egengseh (dipertajam). Santri-santri ini percaya bahwa amalan atau doa yang dibaca sebanyak mungkin dimalam 1 muharram akan semakin tajam (ampuh). Kalau bagian santri ‘Pembuat Jimat’ lain lagi. Seminggu sebelum datangnya tahun baru Islam, mereka sudah berburu jimat-jimat yang dapat mereka tulis. Biasanya tujuan utama mereka adalah Ustad-ustad yang mengajar mereka. Untungnya nasib para ‘Pembuat Jimat’ ini lagi bagus. Di papan pengumuman pesantren, sudah ditempeli selembar kertas yang isinya pengumuman tentang jimat, fadhilahnya serta tata cara menulisnya. Uniknya, selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman tersebut, ditaruh ketika jam 12 malam dan dicabut lagi setelah subuh. Maksudnya… dalam rangka pembuatan jimat itu harus dilakukan antara tengah malam sampai subuh. Gituuu….

Baca Juga:  Ingatlah Jasa Orang Tuamu

Apa jadinya jika perayaan tahun baru islam diisi dengan kegiatan membuat Jimat. Wah, seru kayak nya tuh! Ada yang berminat? Oke, mari kita lihat bagaimana cara santri-santri ini membuat jimat di pesantrennya.

Sebelum pelaksanaan pembuatan jimat, sebelumnya mereka harus menyiapkan kertas putih dan suci. Tapi kebanyakan yang digunakan mereka adalah kertas HVS (yang penting putih). Kemudian harus menggunakan pulpen, dan pulpen yang digunakan pun harus pulpen khusus untuk membuat jimat. Jangan pakai pulpen yang digunakan sehari-hari.

Nah. Jika alat-alatnya sudah lengkap, mereka tinggal menunggu tengah malam tiba. Saat malam yang ditentukan sudah tiba, langkah pertama yang harus dilakukan iyalah mengambil wudu dan melakukan sholat sunnah minimal 2 rakaat, dilanjutkan dengan berdzikir. Kemudian setelah selesai, cara menulisnya harus duduk menghadap ke kiblat. Sampai disini, apakah masih mau dilanjutin? Siapa tahu ada yang suka tidur alias nggak kuat begadang? kan kasihan nanti. Bukannya jadi jimat malah jadi peta pulau Jawa alias ngiler. Hehehe…

Lanjuuut… Dalam penulisan jimat haruslah menggunakan huruf hijaiah (arab), jangan menggunakan huruf abjad. Bukannya jadi jimat, eh malah jadi lirik lagu deh. Kemudian jika terdapat tulisan (huruf hijaiah) yang bolong, semisal huruf م (mim). Kan, ada bolongannya tuh. Maka penulisannya harus ditulis bolong, jangan sampai tidak. Kalau ada 1 huruf saja yang seharusnya ditulis bolong malah tidak ditulis bolong, terpaksa mission failed alias gagal.

Adalagi nih, dalam penulisan per-kata-nya jangan sampai bernafas. Semisal, menulis kata اَلرَّحْمَن (Ar-Rahman). Satu kata ini, jika ditulis harus dengan keadaan tidak bernafas. Loh, kok gitu? Memang sudah syaratnya.
“Bukannya dalam agama Islam jimat atau membuat jimat itu perbuatan bid’ah (mengada-ngada) ya?”
Nah, disini nih titik tengahnya. Sebelumnya kita harus tahu benar apa itu bid’ah. Mari kita buka kamus tentang bid’ah. Cling!!!

Baca Juga:  Sadarlah dan Sungguh-sungguhlah

“Pengertian bid’ah secara umum. Bid’ah adalah segala sesuatu perilaku yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad. Pengertian yang khusus adalah segala bentuk ibadah yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah. Hukum bid’ah adalah haram. Namun bid’ah yang haram itu adalah bid’ah dalam soal ibadah sebagaima dikatakan dalam kaidah fikih bahwa “hukum asal dari ibadah adalah haram”. Adapun bid’ah yang bukan ibadah hukumnya boleh karena dalam kaidah fiqih dikatakan “hukum asal dari segala sesuatu (muamalah, adat, non-ibadah) adalah boleh.”

Pembagian bid’ah menjadi dua yakni bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah dhalalah (sesat). Pembagian ini merupakan sudut pandang yang disepakati oleh Sahabat dan para ulama salaf seperti Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Suyuti, dan lain-lain. Hanya kaum Neo Khawarij Wahabi Salafi yang tidak mau mengakui pendapat ini.”

Nah, sekarang udah tahu apa itu bid’ah. Bid’ah kan ada dua tuh, yang baik dan yang sesat. Kita ambil yang baik saja. Seperti Maulid Nabi, bukannya itu bid’ah? (tidak ada di masa Rasulullah). Iya, tapi itu tergolong bid’ah hasanah (baik). Bagaimana dengan pembuatan jimat? Ya… bid’ah hasanah juga. Tapi perlu digaris bawahi. Tujuan jimat tersebut bukan dalam soal ibadah (seperti keterangan diatas). Kalau bid’ah dalam soal ibadah itu hukumnya haram.

Kembali ke laptop… jika jimat yang dibuat atau tulis sudah selesai. Biasanya para santri ini membungkusnya dengan solasi. Ada yang ditaruh di dompet, di peci, bahkan sampai ada yang buat oleh-oleh dibawa ke rumah. Biasanya kalau jimat yang dibawa ke rumah nih, ditaruh di atas pintu rumahnya. Agar tidak dimasukin makhluk halus, katanya!

Begitulah tahun baru Islam di pondok pesantren. Itu pun belum semua pesantren. Lain lagi pesantren ini, pesantren itu. Tentu terdapat keunikan yang berbeda (bukan hanya kegiatan agengseh). Kalau mau yang lebih meriah lagi, yaaa… dari kalangan umum. Yaaa… kalau kalangan santri ataupun umum. Merayakan tahun baru Islam dengan kegiatan agengseh juga nggak papa. Hehehe…

Baca Juga:  Penyesalan Ada di Belakang

By: Ahmad Kamil Budi Hartono, Santri Putra Fatihul Ulum Manggisan.

Leave a Reply