Tahun Baru Islam

Manggisan.org – Tahun baru Islam

Dalam setiap kehidupan itu terdapat detik, menit, jam, hari, bahkan tahun. Namun dibalik itu semua terdapat perbedaan dalam menanggapi atau segi perhitungannya. Apakah kita harus mengetahuinya…??? Ya….. karena itu bersangkutan pada keseharian kita. Tahun hijriyah saat ini adalah tahun 1439, Saka 1920, sedangkan Masehi adalah tahun 2017.

Tahun hijriyah ditetapkan oleh hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah dengan melihat pergantian bulan. Akan tetapi pada tahun Masehi dan Saka tersebut melihat dari arah matahari. Jika pada zaman dahulu hijrahnya kanjeng Nabi dari Mekkah ke Madinah. Sedangkan pada saat ini, juga ada hijrah yang di lakukan oleh seorang santri dari rumah ke pondok pesantren dengan tujuan mencari ilmu untuk menjadikan sosok “Mar’atus Sholihah” kelak di dunia dan akhirat.Tahun baru Islam

Bagi orang yang memeluk agama islam mengikuti tahun hijriyah dan pergantian tahunnya pada tanggal 1 Muharram atau yang biasa di sebut dengan tahun baru Islam. Jika yang kita ketahui saat ini adalah tanggal 1 Januari merupakan tahun baru, itu pun menurut Masehi. Jadi, yang harus di rayakan oleh orang islam ialah pada 1 Muharram tersebut. Merayakannya bukan dengan pesta petasan, pawai obor, trek-trekan atau semacamnya. Akan tetapi dengan cara:

  1. Rajin ibadah
  2. Shodaqah
  3. Berpuasa lebih-lebih pada tanggal 9 dan 10 Muharram
  4. Menyejahterakan keluarga
  5. Melakukan kunjungan pada ‘Alim ‘Ulama’ yang Sholih
  6. Menjenguk orang sakit
  7. Menyantuni anak yatim
  8. Bersilaturrahmi terutama kepada keluarga.

Memperingati tahun baru islam, kita dapat mengikuti jejak Rosulullah seperti halnya bershodaqah. Sebagaimana Rosulullah bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ وَاَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرِ سَنَتِهِ

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarga atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya” (H.R. Baihaqi, No 3795).

Baca Juga:  Jangan Pernah Menyerah

Ada beberapa peristiwa yang terjadi saat bulan Muharram ini, diantaranya:

  1. Nabi Adam As bertaubat kepada Allah dari dosa-dosanya kemudian bertaubat dan di terimanya.
  2. Berlabuhnya kapal Nabi Nuh As dibukit Zuhdi dengan selamat.
  3. Nabi Ibrahim As selamat dari siksa Namrud berupa api yang membakar.
  4. Nabi Yusuf As terbebas dari penjara karena terkena fitnah.
  5. Nabi Yunus As selamat dan keluar dari perut ikan hiu.
  6. Nabi Ayyub As sembuh dari penyakit menjijikkan yang di deritanya.
  7. Nabi Musa As selamat dari pengejaran Fir’aun di laut merah.

Demikianlah peristiwa yang ada pada bulan Muharram itu. Oleh karena itu, jangan melewatkan bulan yang penuh berkah ini. Meskipun kita sering bertengkar, iri pada nikmat yang di miliki orang lain, takabbur, dll di usahakan pada bulan tersebut kita semua terjauhi dari sifat-sifat negatif itu. Karena pada tanggal 1 Muharram, Allah akan mengganti catatan amal baik atau buruk kita semua dengan lembaran-lembaran baru.

Ada sebuah kisah dari seorang pemuda liar yang tengah mempersiapkan tahun baru Masehi ( 1 Januar ) dengan mengajak teman-temannya ke suatu club kemudian berpesta ria, meminum miras, menghisap sabu-sabu hingga larut malam. Setelah pukul 24.00 Wib mereka bersama-sama meluncurkan petasan yang tak bernilai banyaknya. Antara laki-laki dan perempuan sudah tak ada batasan pada saat itu. Mereka bersenang-senang hingga pagi tiba. Akan tetapi ada seorang pemuda lagi yang tengah mempersiapkan tahun baru hijriyah ( 1 Muharram ) mulai dari melaksanakan sholat malam, berdzikir, mengaji Al-Qur’an, membaca sholawat bahkan pada waktu itu ia lebih menyibukkan diri dengan beribadah. Dengan harapan menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Amin.

Nah ….. dari kedua pemuda tersebut, manakah yang akan kalian contoh??? Jika ada yang mencontoh pemuda yang pertama yang penuh dengan kemaksiatan maka sudah pasti murka Allah menyertainya. Akan tetapi, kita sebagai generasi penerus, mencontohlah pada pemuda kedua yang rajin beribadah insya Allah tuhan akan mengangkat derajat kita menjadi insan yang di ridhoi Allah di dunia lebih-lebih di akhirat. Karena tujuan kita di dunia bukanlah untuk bersenang-senang belaka namun tujuan kita adalah mendapatkan hidayah dari Allah di dunia dan akhirat. Sebab, di dunia itu hanya sementara sedangkan di akhirat itu akan kekal. Maka dari itu, perbanyaklah mencari bekal untuk tujuan akhirat kelak.

Baca Juga:  5 Hal Paling Menakjubkan di Indonesia

 

By: Alda Syafira, MA, Santri Putri Fatihul Ulum Manggisan.

Leave a Reply