Resensi Buku “Ayat-ayat Cinta”

  • Nama : Alda Syafira
  • Kelas : XII B
  • Judul Buku  : Ayat-ayat Cinta
  • Nama Pengarang  : Habiburrahman El Shirazi
  • Tempat & Penerbit Buku : Jakarta, Penerbit republika
  • Tahun Penerbitan : 2004
  • Tebal Buku                : 205 x 13,5 cm
  • Keunggulan  : Novel Ayat-ayat Cinta mengajak kita untuk lebih
  • jernih,lebih pintar, lebih cerdas dalam memahami
  • tentangkeislaman, kehidupan dan juga cinta.
  • Kekurangan : Menggunakan terlalu banyak kata dalam bahasa Arab yang tidak mudah dipahami.

Manggisan.org – Resensi adalah suatu karangan yang berisi penilaian terhadap suatu buku atau karya seni. Resensi buku di susun dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mendata identitas buku yang akan di resensi.
  2. Menulis ikhtisar (hal-hal penting) dan menarik dari isi buku.
  3. Mendaftar butir-butir yang merupakan kelebihan dan kekurangan buku.
  4. Menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan atas isi buku berkenaan dengan kelebihan dan kelemahannya.
  5. Merumuskan kesimpulan dan saran-saran baik untuk penulisan buku itu sendiri ataupun saran kepada pembaca.

 

-( Ayat-ayat Cinta )-

Sering kita mendengar kata yang tak asing di telinga yaitu cinta. Ada yang berpendapat bahwasannya hidup tanpa cinta itu bagaikan taman tak berbunga. Adanya cinta itu dilandasi oleh kasih saying yang benar-benar dari hati bukan karena keindahan, kedudukan bahkan kemegahan semata. Seperti yang tengah di alami oleh tokoh dalam novel “ayat-ayat cinta” . kita tak pernah tau perasaan seseorang itu akan jatuh kepada siapa dan dimana. Yang pasti, ketika Tuhan telah berkehendak maka semuanya akan terjadi.

Seorang tokoh yang berada di novel ini bernama Prasetyo. Ia dating untuk meminang istrinya yang bernama Humairoh. Dengan berat hati, orang tua dari Humairoh menerima lamaran dari Prasetyo. Mereka memasrahkan tanggung jaeabnya pada Prasetyo. Sang Ibunda menangis karena anak semata wayangnya sudah memiliki keluarga baru. Sedangkan sang Ayah memberikan amanah kepada calon menantunya. “Prasetyo, bapak harap kamu bias menjaga putriku sebaik mungkin layaknya saya menjaganya. Dan jangan pernah sedikitpun kamu membuat air matanya jatuh.” Kata sang Ayah. “Insya Allah pak, saya akan menjaga Humairoh dengan segenap raga dan jiwa saya.” Jawab Prasetyo.Resensi Buku Ayat-ayat cinta

Baca Juga:  Puisi-"Ibu ku"

Tibalah hari yang berbahagia itu. Semua keluarga sudah hadir dalam resepsi malam itu. Prasetyo dan Humairoh tengah berada di kamar. “Mas, sekarang imamku adalah kamu. Apapun perintahmu akan aku kerjakan selama tidak menyimpang agama. Maka dari itu, cintailah dan sayangilah saya sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri.” Ucap Humairoh. “Iya istriku, insya Allah saya bisa menjagamu baik dhohir dan batinmu.” Sahut Prasetyo.

Setelah beberapa hari, Prasetyo sudah aktif lagi dalam bekerja di suatu perusahaan. Ia memiliki tugas ke suatu tempat yang agak jauh dari rumahnya. Dalam beberapa hari ia pamit kepada Humairoh untuk bekerja di lain tempat. Ia hanya bisa menghubungi Humairoh lewat handphone. Saat Prasetyo pulang dari tempat kerjanya, ia terkejut melihat seorang perempuan yang hendak bunuh diri. Lantas Pras langsung menyelamatkannya. Ternyata wanita itu sudah depresi karena ia hamil di luar nikah sedangkan lelaki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Wanita it uterus menangis dan terus berusaha untuk mengakhiri hidupnya. Wanita itu bernama Meyros. Dengan perasan iba, Prasetyo melindunginya dan tanpa berfikir lagi dia bersedia menjadi ayah dari bayi yang berada di kandungannya. Kemudian Meyros mulai lega dengan ucapan itu. Prasetyo membawanya ke sebuah rumah yang di sewanya dan menikahinya. Namun, sebelum menikahi Meyros. Pras menceritakan tentang dirinya bahwasannya ia sudah memiliki istri. Meyros pun menerimanya asalkan Pras mau menikahinya.

Humairoh tak pernah mengetahui semua itu. Yang ia tahu suaminya sibuk bekerja. Setelah kejadian itu, banyak kejadian yang membuatnya curiga. Mulai dari sikapnya yang berubah, pernah menemukan lipstik di saku suaminya, apalagi teman-teman dari Humairoh yang pernah melihat Pras bersama wanita lain. Sedangkan Meyros sangat butuh kehadiran Pras karena sibuknya menjaga buah hatinya.

Baca Juga:  Pulang Tak Di Antar

Ketika Humairoh berbelanja di Mall, ia juga pernah melihat suaminya bersama seorang wanita yang menggendong anak. Setelah itu, kecurigaannya semakin kuat. “Apa yang sebenarnya terjadi dalam keluargaku ini?” batinnya. Bahkan Humairoh memberanikan diri untuk bertanya langsung namun Pras hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa.

Suatu hari, Humairoh mengikuti suaminya yang katanya hendak berangkat kerja. Tanpa sepengatahuan Pras, Humairoh melihatnya memasuki sebuah rumah bukan kantor. Hati Humairoh bertanya-tanya. “Apa tujuan suami bersama ibundanya pergi kerumah yang dimasuki Pras kemarin.” Ternyata penghuninya adalah Meyros dan anaknya (Istri simpanannya Pras). Rasa sedih, marah dan kecewa yang saat itu dirasakannya. Saat sang ayah mengetahui hal tersebut, ia sangat marah dan langsung menemui Pras. Ia memarahi, memukul Pras hingga mengeluarkan darah. Pras minta maaf namun sang ayah sudah terlanjur kecewa.

Kemudian orang tua Humairoh meminta Pras untuk menceraikannya. Akan tetapi, Humairoh tidak mau. Ia masih mencintai suaminya meskipun rasa sakit yang tengah ia rasakan. Sehingga tinggallah ketiga orang tersebut dalam satu rumah. Walaupun kadang masih ada kesalahpahaman diantara mereka. Humairoh yang tidak memiliki anak, mengasuh anak dari Meyros karena selama ini ia sudah kesepian. Hidup mereka mulai membaik sebagaimana Humairoh bisa menerima kehadiran Meyros, begitupun sebaliknya. Karena Humairoh tak ingin kehilangan suaminya yang kedua kali.

 

-( Kesimpulan )-

Jadi, sifat sabar, ikhlas dan tawakkal itu dapat membuahkan hasil yang luar biasa. Karena janji Allah itu pasti. Setiap ujian dan cobaan itu sebagian tanda bahwasannya Allah menyayangi kita. Oleh karena itu, Tuhan akan memberikan ujian kepada hambanya yang sesuai dengan kemampuannya. Insya Allah, jika kita mampu bersabar, berusaha dan bertawakkal maka Allah akan selalu ada untukmu

Baca Juga:  Dajjal di Depan Mata

 

By: Alda Syafira, Santri Putri Fatihul Ulum Manggisan.

One Response

  1. Sabda Perubahan April 2, 2018

Leave a Reply