Ngga’ Bisa Pak!

Ujian praktek Bahasa Indonesia (cerpen)

Nama   : Ardiansyah

Kelas  : 12 MA Fatihul Ulum Al-Mahfudz

Ngga Bisa Pak!

“Fiksi Adalah Cara Terbaik Menceritakan Fakta”                                             

Andrea Hirata, Penulis Buku Best Seller Laskar Pelangi

 Manggisan.org –

Ting… tong… saatnya pelajaran pertama dimulai…

Suara bel sekolah berbunyi, melesat masuk kesegala penjuru pesantren. Bunyinya yang tampak seperti Speaker Informasi dari Stan Suara yang ada di Bandara atau Stasiun-Stasiun Kereta Api itu, membangunkan para santri yang masih ingin berada dalam dunia mimpinya masing-masing. Kebanyakan dari mereka (santri) yang sering tidur beranggapan (jika ditanya mengapa sering tidur) bahwa “dunia mimpi itu sangatlah lebih indah daripada dunia nyata (ah, alasan!).

   Pelajaran pertama dimulai jam sembilan pagi. Sebagian santri tampak masih bermalas-malasan mempersiapkan diri untuk sekolah. Sebagian ada yang sudah berangkat dari tadi (tepatnya sebelum bel). Dari balik pintu Bilik (kamar santri), seorang santri umur tujuhbelas tahunan tampak sedang kebingungan. Sebut saja namanya Muslim.

“Eh, Jho! Loe tau buku gue nggak?” tanya Muslim pada sahabat karibnya, Mukmin. ‘Jho’ itu adalah nama untuk panggilan akrab mereka berdua. Ya… kalau lengkapnya sih, Paijho.Emb… padahal nggak gaul ya?ngga' bisa pak

“Buku yang mana? Bukannya buku loe SCTV (satu untuk semua)?” balas Mukmin tak serius, ditambah lagi dengan sindiran halusnya.

“Ye… enak aja! Gue sekarang kan, udah jadi A.B.B,” sahut Muslim sedikit tidak terima.

“Pa an tuh?”

“Anak Baik-Baik, lah!” jawab Muslim cengar-cengir. Setelah adegan cengar-cengirnya reda, tiba-tiba ia teringat sesuatu, “Lho, kok malah ngelantur, sih. Buku gue mana!?” lanjutnya seraya menoleh kesana-kemari.

“Mana gue tau… biasanya, kan elo yang ngilangin buku gue.” Ucap Mukmin sedikit menggerutu.

“Ayolah Jho, nggak usah becanda, masih belum waktunya nih. Malah udah telat lagi.” Pinta Muslim memelas.

“Emang elo aja yang telat, gue juga! Kita, kan satu kelas.” Ucap Mukmin yang kelihatan terburu-buru sambil memasang kancing bajunya. Setelah selesai dia langsung mengambil dua buku dari kardusnya (baca; lemari buku). Gara-gara bajunya yang segudang itu, lemari baju Mukmin udah nggak bisa buat nyimpen apa-apa lagi selain baju. Ya… palingan Cuma benda-benda kecil, seperti Pulpen, Pensil dan lain sebangsanya. Jadi, terpaksa harus pakai kardus.

“Nih, buku kosong, pake aja dulu. Nanti kalo bukunya udah ketemu, entar elo salin, dah. Sekarang pelajaran Bahasa Indonesia, elo tau sendiri kan, kalo ngga nulis bakal diapain?” ucap Mukmin seraya menyerahkan salah satu buku yang di ambilnya tadi.

“Wah, makasih Jho. Elo ganteng deh, hari ini….hahaha……” Rayu Muslim.

“Itu muji apa ngeledek?”

“Ngeledek lah. Hehehe…”

“Jangan ketawa terus loe, jelek lagi. Liat tuh, udah jam berapa?” cetus Mukmin, “Gara-gara elo nih, gue juga ikutan telat!” ucapnya lagi seraya berjalan keluar Bilik.

“Oh, iya Jho,” panggil Muslim lagi pada Mukmin yang sudah berada di ambang pintu.

“Apa lagi…,?”

Muslim garuk-garuk kepala (padahal nggak gatel), “Emb… anu Jho, punya pulpen dua nggak?” Muslim nyengir, “Punya gue udah abis.” Balasnya sok lugu.

Baca Juga:  Gairah Jurnalistik

Hening…

“Ambil sendiri di loker…” ucap Mukmin seraya berlari menuju kelas (lebih tepatnya, karena Si Mukmin melihat Cak Budi –Pengurus Pendidikan dipondok- menuju kearahnya sambil membawa senjatanya.)

###

Guru Bahasa Indonesia masih belum hadir, suasana kelas pun tak terlalu ramai (fifty-fifty). Ada yang belajar, ada yang ngobrol-ngobrol nggak jelas dan tak jarang pula ada yang pindah tempat (alias ngelanjutin tidurnya lagi di dalam kelas. Itu pun belum cuci muka).

Jam dinding menunjukkan arah jam sembilan lebih 30 menit. Tiba-tiba dari luar seseorang membuka pintu kelas yang masih tertutup. Membuat para santri yang masih sadar mengalihkan pandangannya. Ada sedikit rasa tegang. Alih-alih takut kalau yang masuk itu Pak Hari, Guru Bahasa Indonesia. Tapi, selang waktu beberapa detik…

“Huft… ternyata elo Slim… Slim, kirain Pak Hari!” seru Yudi, anak paling cungkring dan jorok dikelas, “Hampir aja mau gue lempar ama kertas bekas nguker telinga gue, yang udah seminggu belum di cuci.” Lanjutnya.

Muslim tidak menghiraukan kata-kata pembuka dari Yudi pagi ini. Terkadang nih, kalau Yudi ngomong satu baris, Muslim udah membalasnya sampai satu Bab plus Glosariumnya. Tapi pagi ini, tak seperti biasanya. Muslim berjalan perlahan menuju bangkunya yang bersebelahan dengan Mukmin. Pelan tapi pasti, dia seperti sedang kelelahan. Tatapannya kosong (sekosong buku yang ia pinjam hari ini.  Hehehe….).

Selang beberapa waktu, baru setelah Muslim duduk dibangkunya. Pak Hari masuk ke dalam kelas dengan setumpuk kertas HVS ditangannya.

“La… Ila… Hailallah…-“ tanpa disuruh, semua santri langsung membaca Kalimat Tauhid (doa yang harus dibaca saat Guru atau Ustad masuk kedalam kelas untuk mengajar) tiga kali secara bersamaan.

Assalamualaikum waroh matullahi wabarokatuh….” ucap Pak Hari ketika sudah duduk dibangku Guru.

Wa alaikumsalam pak….” jawab murid satu kelas.

Pak Hari mengambil buku dari tasnya dan membolak-balik halaman demi halaman. Sementara di bangku paling belakang terdengar dua orang santri yang sedang berbicara seolah berbisik-bisik.

Jho, baju loe kenapa, kok kayak abis kecebur empang setengah badan gitu, basah separo. Malah bauk lagi,” lirih Mukmin pada Muslim (sebenarnya sih, Mukmin tahu ada apa dengan Muslim. Dia pasti kena hukuman dari Cak Budi karena terlambat). Tak ada respond dari Muslim. Dia malah sibuk mengipasi dadanya yang sudah terbuka dua kancing baju, sehingga kelihatan dada bidang Muslim yang tampak berkeringat. Anehnya, paras Si Muslim langsung berubah seperti bayi yang tidak bisa mengambil mainannya. Dia cemberut!

“Elo sih, nggak bilang-bilang tadi kalo ada Cak Budi. Sebagai ganti karena telat. Gue jadi dihukum,” ucap Muslim akhirnya seraya masih mengipas-ngipaskan dadanya, “Udah di suruh keliling pondok sepuluh kali, masih ditambahin pushup limabelas. Kan kebangetan ya Jho?” lanjutnya. Kemudian menoleh ke arah Mukmin. Ternyata yang ditanya malah baca novel. Tapi, sambil terkekeh . akhirnya kepala Mukmin pun menjadi sasaran empuk bagi Muslim. Terjadilah adegan bercanda antara mereka berdua.

Baca Juga:  Keutamaan Ilmu

“Baiklah, pertemuan kemaren sampai bab apa?” Pak Hari memulai pelajaran. Hening seketika.

“Membaca pidato Pak.” Jawab Ferry, anak berkacamata yang paling nyambung pikirannya di kelas ini. Lebih gampangnya cerdas, lah.

“Bab tujuh pak,” sambung Adi malas seraya menguap karena masih ngantuk.

“Baiklah, sekarang kita akan mempelajari bagaimana membaca puisi dan maksud dari puisi itu tersebut. Bapak akan membacakan sebuah puisi karangan Muhammad Mu’az, yang judulnya ‘Kehilangan Tujuan Hidup’ ;

Siapakah aku?

Apa yang sedang aku lakukan di dunia ini?

Entahlah

Aku sudah kehilangan semangat dan tujuan hidupku-

 

Setelah Pak Hari selesai mebaca puisi dan juga menerangkannya. Kemudian Beliau bertanya,

“Apa tujuan kalian hidup?” semua diam. Ada yang usaha buat berfikir. Ada juga yang biasa-biasa saja (ngga ambil pusing). Dan akhirnya nggak ada yang jawab.

“Baiklah, sekarang begini,” ujar Pak Hari seraya berdiri dan memegang sebatang kapur tulis ditanganya, “Hidup itu untuk apa?” katanya, kemudian menulisnya di papan tulis.

“Untuk ibadah Pak!” ucap Sholeh. Emang udah dari namanya nih, anak. Alim, soalnya anaknya Pak Ustad.

“Kurang tepat.” Kata Pak Hari, tapi  Beliau tetap menulisnya di papan tulis, “Belajarlah me-logika kehidupan kita sendiri. Ajak otak  kita untuk me-logika kehidupan dari yang paling dasar.”

Seorang santri dari bangku paling belakang yang bajunya udah hampir kering karena sedari tadi di kipasinya angkat suara, “Hidup itu untuk mati Pak!” katanya, tetap mengkipasi tubuhnya yang berkeringat. Gara-gara telat, tadi dia harus lari maraton dulu. Keliling pondok.

“Ah, bodohnya di kau,” Balas Pak Hari lantang. Sontak sebagian santri di kelas tertawa. Menertawakan seseorang yang baru saja angkat suara tadi, Muslim. Muslim tertunduk malu, karena ucapan Guru Bahasa Indonesianya itu. Baju yang ia kenakan tak kunjung kering. Keringatnya menetes lagi. Dia malu, malu dengan kata “ah, bodohnya di kau”. Dan itu pun seolah-olah terulang terus menerus di pikirannya. Sekarang dia hanya bisa menunduk. Entah apa yang dipandanginya.

“Begini mas,” suara  Pak Hari merendahkan diri, “Hidup itu, jangan langsung kau vonis mati. Kalau semua kehidupan seperti itu, tak akan ada cita-cita, tak ada impian, dan tak akan ada kehidupan. Kenapa nggak mati saja. Toh, hidup itu kan, untuk mati.” Para santri mendengarkan dengan seksama. Kemudian Pak Hari melanjutkan tulisannya di papan tulis.

“Hidup itu untuk…. makan. Dan makan itu untuk berkembang. Berkembang untuk berbuah dan yang terakhir, berbuah untuk dinikmati atau di syukuri.” Ucap Pak Hari mengulang tulisannya di papan tulis. “ Coba kalian renungkan… kata-kata di papan tulis ini ada betulnya apa tidak?” lanjut Pak Hari seraya meninggalkan kelas.

Sepuluh menit kemudian Pak Hari masuk lagi ke kelas dan mengumumkan bahwa dua hari lagi ujian praktek Bahasa Indonesia akan dilaksanakan, yaitu harus membuat cerpen minimal 900 kata.

Baca Juga:  Arti Pengorbanan

“900 kata Pak!?” seru Mukmin tak percaya. Dia baru sadar.

“Iya,” Jawab Pak Hari santai. “itu pun sudah di diskon. Seharusnya 1200 kata untuk tingkat SMA.” Lanjutnya lagi.

“Wah, mana bisa Pak. Waktunya ngga cukup-“ Mukmin berkomentar.

Nggak nutut (tidak cukup), nggak nutut apanya! Saya paling tidak suka punya murid yang tidak percaya diri! Masak belum berperang udah mau nyerah!? Kerjakan dulu. Lihat hasilnya. Bisa apa tidak! Kalau sudah dikerjakan terus tidak bisa, baru kamu bilang tidak bisa! Belum apa-apa sudah bilang tidak bisa lah, waktunya tidak cukup lah, yang inilah yang itulah!” hardik Pak Hari tiba-tiba pada Mukmin secara bertubi-tubi. Sedangkan Mukmin dibelakang salah tingkah. “ Gimana masa depan kalian kelak! Kata-kata TIDAK BISA itu hanyalah untuk orang-orang yang tidak percaya diri dan tidak punya impian. Apa kalian tidak punya cita-cita? Semua pasti bisa, asal ada kemauan. Bapak percaya kalian pasti bisa hanya untuk mengerjakan ujian praktek ini. Apalagi Cuma buat cerpen.  Asal kalian mau, mungkin dua hari saja, mungkin cerpen kalian bisa lebih dari 1000 kata.”

Enak aja ngomong, emang di pondok kerjaannya cuma ngarang cerpen apa! Dua hari bisa selesai. Mana gue ngga bisa ngarang lagi. Gerutu Mukmin dalam hati.

   “Kalian punya impian bukan? Apa ingin membahagiakan orang tua atau ingin menjadi Tentara, Dokter dan lain sebagainya. Setiap orang pasti punya impian! Jadi, hapuslah kalimat TIDAK BISA dalam kamus kehidupan kalian. Gantilah dengan kemauan serta kesadaran yang mendasar. Apalagi sekarang sudah kelas 3 SMA, pasti sudah banyak angan-angan atau uneg-uneg yang berkeliaran dipikiran kalian. Ingat! Kalau dulu masih SMP, itu butuh ATURAN. Tapi, kalau sudah SMA, harus butuh KESADARAN. Sadar, apa yang kalian dapat setelah sekian lama menimba ilmu di pondok pesantren ini. Jangan kalah hanya dengan kalimat TIDAK BISA. Masa depan kalian masih panjang dan-“

Ting….Tong…. Saatnya Istirahat….

Suara bel berbunyi, memotong ucapan Pak Hari yang tak disangka, akan sepanjang Jembatan Suramadu (hehehe).

“lho, sudah bel ya?” sambung Pak Hari, “Baiklah, mungkin itu saja yang bisa Bapak sampaikan. Udah berapa kata?” ucap Pak Hari lagi seraya tersenyum. Semua murid pun juga ikut tersenyum. Tapi, ada satu murid yang tampak merenung.

“Ya sudah, semoga bermanfaat dan jangan lupa ujian prakteknya. Bapak akhiri, assalamualaikum….” lanjut Pak Hari seraya meninggalkan kelas.

Di bangku paling belakang Si Dia tetap merenung. Mungkin memikirkan apa yang sedari tadi di dengarnya. Pokoknya aku harus berubah jadi yang lebih baik, ikuti apa kata Pak Hari tadi. Hapus kalimat TIDAK BISA dalam kamus kehidupan. Setiap orang pasti punya impian. Tidak ada yang tidak bisa asal ada kemauan. Ya! Masa depanku masih panjang. Aku pasti bisa. Ucap Mukmin dalam hati mantap serta percaya diri. Kemudian dia keluar kelas untuk istirahat.

 

 

-The end-

 

Leave a Reply