Belajar Menulis Bersama Tere Liye

Belajar Menulis Bersama Tere Liye

(Oleh: Safii, Staf Pengajar di Madrasah Fatihul Ulum almahfudz)

Manggisan.org-

Kita sering mendengar perkataan, ‘Jika ingin menjadi orang besar, maka lakukanlah hal yang besar., saya tidak dalam posisi membenarkan atau menyalahkan perkataan tersebut. Namun, prinsip seperti ini sudah dianut oleh filsuf Romawi Kuno, Cicero. Dia pernah menulis, “bukan karena otot, kecepatan, atau ketangkasan fisik seseorang mencapai hal-hal hebat, tetapi oleh refleksi, kekuatan karakter, dan penilaian.’

Menilik perkataan Cicero diatas, bisa kita pahami bahwa hal-hal besar yang merubah dunia dilahirkan melalui olah pikir dan olah hati. Ia tidak hanya melibatkan konsep intelektual, logika dan materi, tetapi juga melibatkan emosional dan spritual, dan dua terakhir inilah yang sangat penting.

Pemahaman seperti ini, diajarkan juga dalam dunia Islam bahwa, ‘Orang kuat itu bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi ia adalah orang yang bisa menahan nafsu.’ Menahan nafsu, menurut saya, bisa dipahami sebagai menahan emosi dan melaksanakan perintah (takwa).

Nah, hal-hal besar itu apa saja? Mungkin anda membayangkan hal-hal besar itu seperti  bekerja keras sehari semalam, menjadi pimpinan negara, menghapal banyak kitab dan buku, dan punya gelar profesor. Tidak!. Hal besar yang dimaksud disini adalah menyebarkan kebaikan (tabligh), berlaku jujur (siddiq), mengemban amanah (amanah), dan kemampuan merasakan kesesatan masyarakatnya (fathonah). Lalu, dimana posisi menulis berada? Apakah menulis termasuk sesuatu yang besar?

***

Menulis Adalah Sesuatu yang Besar

Untuk meninjau bahwa menulis adalah sesuatu yang besar tidaklah sulit. Pertama, didalam Alquran, Surat Al ‘alaq, ayat 4, artinya: ‘(Dialah Allah) yang mengajar dengan perantara Pena.’ Ayat ini ditafsiri dengan atsar dari Sayyidina Ai bin Abi Tholib ‘Ikatlah Ilmumu dengan Menulis.’ (Lihat Tafsir Ibnu Katsir Juz IV hal. 459).

Kedua, Nabi Muhammad SAW pun mengangkat juru tulis wahyu yang bernama Zaid bin Tsabit. Ketiga, pada masa Kholifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman juga tidak lepas dari dunia menulis. Pada masa merekalah wahyu berhasil dihimpun dan ditulis menjadi mushhaf.Belajar Menulis Bersama Tere Liye

Baca Juga:  Berani bermimpi

Keempat, Imam Ghozali, seorang ulama yang produktif menulis, pernah berpesan, ‘kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ilmuwan, maka jadilah penulis.’  Pramoedya Ananta Toer, ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.’

Dari semua tinjauan yang menguatkan menulis sebagai sesuatu yang besar, bisa disimpulkan, setidaknya, menulis itu sebagai media menyebarkan kebaikan (baca: tabligh).

Bagaimana?, apa sudah percaya kalau menulis itu sesuatu yang besar?. Kalau hingga kalimat ini kamu belum percaya, jangan teruskan membaca artikel ini, karena berarti tidak penting bagi kamu untuk melanjutkan.

Eit, tunggu dulu. Saya perkuat dengan satu hal lagi, bahwa JK Rowling, penulis novel fiksi Harry Potter, dia menjadi penulis terkaya di dunia dengan kekayaan mencapai 14,9 triliun (tahun 2018), sebagian besar kekayaannya berasal dari royality menulis. Ini kalau mikirnya dari sisi duniawi. Masih belum percaya bahwa menulis itu sesuatu yang besar?, tutup saja internetmu!. Lanjutkan baca Alquran saja!.

***

Menulis Dalam Dunia Islam

Kata ‘tulisan’ (al-kitab) dalam Alquran disebutkan sebanyak 230 kali, kalau tidak percaya silahkan hitung sendiri. Artinya, secara kuantitas, tulisan sangat penting. Juga atsar Sayyidina Ali, ‘ikatlah ilmumu dengan menulis.’ Jika ilmu yang kita miliki sudah dalam bentuk tulisan, maka akan lebih banyak manfaatnya bagi kemanusiaan dan perbaikan akhlak generasi selanjutnya. Diantara manfaat tulisan adalah:

  1. Sebagai sarana untuk berdakwah.

Tulisan menjadi satu cara untuk memperkenalkan dan menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat luas. Karena berkait dengan dakwah, maka tulisan harus bisa dipertanggungjawabkan isinya. Tulisan yang baik akan membawa kemaslahan yang luas. Tulisan hasil pemikiran yang belum tuntas alias setengah-setengah akan membawa kerusakan atau kesesatan.

  1. Mengembangkan ilmu pengetahuan.

Sulit dibayangkan ilmu pengetahuan akan pesat berkembang jika dunia tulis menulis tidak berkembang. Kita melihat hari ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu pesat, semua itu karena para ilmuwan zaman dahulu meninggalkan warisan berupa tulisan. Dari warisan buku itulah, manusia modern mempelajari, memahami, dan mengembangkan teori-teori yang sudah ada, sehingga muncul ilmu-ilmu dan penemuan-penemuan baru.

Baca Juga:  Story-Story di Pondok Pesantren

Wiiih…, serius amat, bacanya. He he he…, memang harus serius!. Saat baca artikel ini, kamu pasti pakai HP atau Laptop atau PC. Itu adalah kenikmatan yang berkembang karena sebelumnya telah ada tulisan. Kalau kamu beli perangkat elektronik baru, pasti ada tulisan yang disertakan berupa panduan pengoperasian.

  1. Dengan tulisan hidup lebih praktis.

Kalau kamu beli perangkat elektronik baru, pasti ada tulisan yang disertakan berupa panduan pengoperasian. Perusahaan cukup mencetak buku panduan (tulisan) dan disertakan disetiap kemasan barang. Tidak perlu menjelaskan satu persatu kepada pembeli di seluruh dunia. Praktis, kan?. Menjadi konyol jika setiap orang membeli barang, produsen masih menjelaskan satu persatu.

  1. Menjadi amal jariah

Menulis sesuatu yang baik akan memberikan kebaikan pada para pembacanya. Jika ada satu orang saja, berubah menjadi baik karena tulisanmu, maka kamu akan mendapat pahala yang terus mengalir. Saya pikir, begini ini, masuk dalam makna ilmu yang bermanfaat. Seorang kiai, muballig, guru, motivator, saya yakin mereka tidak terlepas dari buku / tulisan yang menjadi sumber materi.

Lah, kok melenceng? Pembahasannya kan Menulis dalam Dunia Islam. Baiklah, kita kembali ke jalan yang lurus: begini, Dunia Islam pernah mengalami masa keemasan karena begitu menghargai dunia kepenulisan sebagai sarana mengembangkan ilmu pengetahuan. Sampai hari ini, khususnya dunia pesantren, masih mengandalkan kitab-kitab klasik sebagai kajian mendalami ilmu agama. Kalau kita mau mundur kebelakang lagi, tulisan dalam Islam sudah ada sejak zaman awal, walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana, bukan tulisan ilmiah metodologis. Sebutlah Sayyidina Ali, menurut satu riwayat, beliau memiliki catatan pribadi yang dinamai Shahifah. Ketika ditanya apa isinya?, beliau menjawab, “Penebusan tawanan, seorang Muslim tidak boleh diqishos karena membunuh orang kafir dan Diyat Aqiilah.” Sahabat lain yang mempunyai catatan adalah Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mencatat hadits-hadits yang didengarnya secara empat mata dari Nabi Muhammad. Catatan itu dinamai Asshahifah Ashshodiqoh. Berikutnya adalah Abdullah bin Abbas dan Samurah bin Jundub. Kalau semuanya diceritakan disini, maka panjanglah artikel ini. Lagi pula cukup melelahkan. Jadi, intinya, menulis dalam dunia Islam terus berkembang dan terjadi setelah masa sahabat, yakni masa tabi’in dan tabiut tabi’in. Pada masa ini, bukan hanya catatan hadits yang ditulis, melainkan sudah berkembang pada menulis tentang hukum-hukum fiqh dan sejarah. Tulisan pada zaman Tabiut Tabi’in banyak yang sampai hingga generasi kita sekarang. Ahh…, silahkan sujud syukur, sana! Kitab-kitab yang kau baca itu pantas untuk disyukuri.

Baca Juga:  Bangkit

***

Membaca dan Menulis dalam Alquran

‘Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah.’ Dari perkataan Qotadah dalam Tafsir al-Qurthuby.

Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 yang disepakati sebagai wahyu pertama yang diturunkan, memiliki tiga cakupan yang sangat prinsip, yaitu penciptaan manusia, keutamaan perintah membaca, dan menulis. Menurut Wahbah Azzuhaily, nilai yang ada dalam wahyu pertama ini adalah mengajak kepada manusia untuk memahami urgensi membaca dan menulis. Perintah membaca kepada Nabi Muhammad SAW yang ummy bermaksud bahwa Tuhan mengantarkan manusia dari dunia jahiliyah  menuju dunia ilmiyah melalui budaya membaca dan menulis.

Siaahh, mantep, ya? Budayamu apa?, nongkrong dan tidur? Huh, (sambil tepuk jidad). Nulis materi pelajaran saja, campur aduk seperti rujak campur. Sudah lah…, ganti budayamu!!!

“Bang Syaf,

Judul artikelnya kan Belajar Menulis Bersama Tere Liye?

Mana?, kok gak ada cerita Terenya?

Lanjut baca artikel yang berjudul “Mengejar Tere ke Banyuwangi

Leave a Reply