Mengejar Tere ke Banyuwangi

Mengejar Tere ke Banyuwangi

(oleh: Syaf Safii)

Manggisan.org-

Mohon perhatian, artikel ini ibarat kaki sebelah dari artikel sebelumnya yang berjudul “Belajar Menulis Bersama Tere Liye.” Jadi, biar tidak pincang, sebelum baca ini, bacalah artikel tersebut terlebih dahulu. Kalau kamu mau. Kalau tidak, ah…, masa kamu pingin pincang? Tapi, terserah kamu saja. Kamu memang belum sembuh dari sikap amburadulmu.

Menulis itu  penting. Menulis itu untuk mengikat ilmu. Menulis bisa jadi amal jariah. Menulis itu kebaikan. Dan, menulis itu ajaran Tuhan.

 

Belajar pada Ahlinya

Sejak saya di pesantren, sekitar tahun 2003, sudah ada himmah pada dunia literasi. Sayangnya pada zaman itu, perangkat menulis tidak semudah sekarang. Adanya hanya mesin tik. Walaupun begitu, sempat saya selesaikan menerjemahkan kitab tasawuf Alminahus Saniah dalam tulisan tangan. Setelah pesantren memiliki komputer pertama, tahun 2004, terjemahan itu sempat dicetak (print out) dan sekarang entah kemana.

Tahun 2015, saya membaca sebuah buku yang terbit tanpa ISBN yang isinya sederhana sekali. Saya membatin, ‘seperti ini saja bisa terbit.’ Buku itu menjadi pemicu yang membangkitkan ‘nafsu’ saya untuk menulis dan menerbitkan buku. Sebelumnya, saya sudah pernah membaca beberapa tulisan santri hasil ujian praktek Bahasa Indonesia. Membanding-banding tulisan santri ternyata lebih jleb  daripada tulisan yang ada dalam buku tadi.

Tahun 2016 saya coba mengadakan lomba menulis tingkat santri Madrasah Fatihul Ulum  Almahfudz dengan hadiah-hadiah kecil. Ternyata ada puluhan santri yang mempunyai bakat menulis terpendam. Kemudian, saya paksakan diri mencoba meraba-raba mengeditori dan me-lay out tulisan santri. Kemudin mencari penerbit. Ternyata memahami dunia penerbitan itu ribet, rasanya. Waktu itu saya belum paham apa artinya diterbitkan minor dan apa mayor.

Karena dari awal sudah ‘modal nekat’, akhirnya buku pertama itu diterbitkan secara self publishing (kalau belum paham dengan istilah-istilah yang saya sebutkan, silahkan cari sendiri di internet). Singkat cerita, setelah buku dibaca banyak orang, bertubi-tubi datang kritikan yang membangun. Tapi, batin saya tetap puas. Para santri penulis yang karyanya masuk dalam buku antologi itu, juga merasa senang.

Baca Juga:  Antara Tuhan dan Takziran

Kritikan yang masuk membuat saya sadar bahwa tulisan saya masih banyak kurangnya. Saya coba membeli dan membaca beberapa buku tentang kepenulisan. Tidak banyak membantu. Pengalaman menulis skripsi pun tidak cukup memperbaiki cara menulis saya. Tulisan saya tetap mentah. Ketika ada lomba menulis cerpen tingkat nasional yang diadakan Kementerian Agama dalam rangka Hari Santri, karya yang saya ikut sertakan tidak diketahui rimbanya.

Mulailah saya mengikuti pelatihan menulis secara online. Pertama, ikut bimbingan khusus menulis novel di facebook. Hasilnya, tutornya sibuk terus. Saya menjadi males. Saya hanya dapat materi bagaimana membuat kerangka karangan. Hanguslah biaya pendaftaran. Novel yang saya kerangkakan terbengkalai. Kedua, saya ikut nubar (nulis bareng) berbayar yang diadakan penerbit AE Publishing. Disini saya mendapatkan materi tanpa pernah bertemu pelatihnya. Lumayan banyak ilmu kepenulisan yang saya dapatkan. Dari nubar ini lahir sebuah buku, ‘Selaksa Rasa Tentang Lelaki.’ Saya merasa mendapatkan komunitas yang tepat. Komunitas menulis. Dari sinilah saya melahirkan kata mutiara, ‘Bergaullah dengan orang yang sehoby, karena mereka akan mendorong pada pencapaian yang lebih baik.’ Kemudian saya mengikuti nubar lagi dan lagi. Dari nubar-nubar AE Publishing ini telah terbit banyak buku, yaitu, ‘Lakuna dalam Candu Dunia, Nuansa Cinta Ramadan, Soulmate, dan Horror.’ (Promosi dikit ya, semua buku yang disebutkan ready. Yang berminat silahkan hubungi WA. 085855665010).

Ketiga, saya belajar pada komunitas lain, @nulisyuk. Disini benar-benar dilatih menulis secara cepat. Ingin selesai harus konsisten. Dari 150 peserta pelatihan online, hanya 42 peserta yang berhasil mengumpulkan karyanya dan diterbitkan, termasuk saya. Dari pelatihan ini, lahir dua buku ‘Titik Terendah dan Semiotika Rasa.’ Keempat, saya masuk pada komunitas menulis yang lebih besar, yang didalamnya ada penulis besar, seperti Isa Alamsyah dan Tendi Murti. Saya mendaftar di KNO (Kelas Novel Online). Disini saya temukan gairah baru. Materi dan pelatihnya sangat telaten. Dari kelompok KNO ini juga akan terbit satu buku.

Baca Juga:  Resensi Buku Sunnah Sunnah Kecil Berpahala Besar

Semua pelatihan yang saya ikuti masih berbasis model jarak jauh. Saya mulai berpikir, jika bertemu langsung dalam satu forum, pasti terasa beda.

 

Mengejar Tere ke Banyuwangi

‘Masih semangat membaca, ya?’ harus, donggg!’

Baik pemirsa, kini saatnya saya berbagi kesimpulan Workshop Kepenulisan bersama Darwis alias Tere Liye di Uiversitas Airlangga Banyuwangi.

Saya mendapat info pelatihan ini dari akun IG @bukugpu (Gramedia Pustaka Utama). Saya mendaftar. Saya persiapkan waktu. Perjalanan saya ke Banyuwangi kali ini adalah perjalanan pertama. Sebelumnya saya tidak pernah berkunjung ke Banyuwangi. Hanya tahu cerita rakyatnya yang katanya si putri melompat ke laut lalu air laut menjadi wangi.

Menurut info google map, perjalanan dari rumah saya ke tempat acara memakan waktu 3 jam 57 menit. Jika acara dimulai jam 08.00, maka saya harus berangkat jam 05.00, perkiraan sampai ditempat jam 09.00. Terlambat satu jam bukan masalah.

Jam 05.00 saya berangkat, TERNYATA YANG TERJADI; menunggu datangnya bus memakan waktu 30 menit. Jam 06.45 baru sampai terminal Jember. Kali ini bus-nya menunggu penumpang. Kemudian baru berangkat jam 07.15 (ini namanya paragraf eksplanasi).

TERNYATA YANG TERJADI BERIKUTNYA, bus berjalan dengan kecepatan seperti jalannya binatang kaki seribu. Lambat. Merayap. Jam 10.00 baru turun dari tanjakan Gumitir sisi Banyuwangi. Saya melihat karcis bus, saya hitung masih harus melalui lima kecamatan untuk sampai ke tempat acara. Biuuhhh. Saya menghubungi panitia, bertanya acara sampai jam berapa dan dijawab sampai jam 12.00. masih ada harapan.

‘jangan marah, ya. Mana hasil pelatihannya? sabar dulu.’

DAN YANG TERJADI, saya baru sampai terminal Banyuwangi jam dua belas lebih sekian. Saya bergegas naik ojek ke tempat acara. Registrasi. Kemudian masuk ruangan. Alhamdulillah. Tere Liye belum pulang, dia sedang menjawab pertanyaan peserta.

Baca Juga:  Kesibukan Hati Dalam Hidup

Saya harus mendapat ilmu kepenulisan. Harus. Saya membatin. Pokoknya jangan sampai tidak dapat apa-apa. Saya keluarkan pena dan buku catatan. Lalu saya menulis apa yang Tere ceritakan.

“kalau kalian mau menulis sebuah cerita yang mempunyai latar waktu zaman 1930 an, maka kalian harus mengadakan penelitian, membaca literasi tentang keadaan zaman waktu itu. Mencari gambar-gambar yang menunjukkan zaman itu. Setelah referensi banyak diperolah, misalnya kamu mau menceritakan kondisi kapal layar zaman itu, BERFANTASILAH. Rasakan seakan kamu SEDANG NAIK KAPAL ITU. lalu TULISLAH apa yang kamu RASAKAN; Gelombangnya, suara bising kapalnya, riuh penumpangnya, dan sebagainya.”

Setelah itu ada beberapa pertanyaan lain yang hanya dijawab oleh moderator. Saya tidak mencatatnya. Jam 12.00, acara selesai. Hanya itu yang saya dapatkan? tidak!!!

Saya menbatin, harus mendapat lebih. Ilmu itu tidak melulu yang diceritakan, melainkan juga yang dipraktikkan. Dalam ilmu akidah biasa disebut dengan ayat kauniyah. Saya mengamati apapun yang bisa diamati. Gayanya yang sederhana. Melayani tanda tangan dengan telaten. Tata ruang acara. Disiplin waktu. Hadiah buat yang bisa menjawab pertanyaan. Semuanya sudah saya serap sebagai bagian pengetahuan yang saya dapatkan.

Kesimpulannya; kalau mau melakukan perjalanan JANGAN percaya nasehat Google Map. Kalau mau menghadiri acara publik figur, datanglah sebelum acara dimulai. Dan yang terakhir, LAKUKANLAH PENELIIAN DAN PANDAILAH BERFANTASI KALAU KAMU MAU JADI PENULIS FIKSI. [28/9/2018]

Leave a Reply