Mengapa aku malas belajar?

Manggisan.org – Mengapa aku malas belajar?

Mengapa aku malas belajar? Kalimat tanya ini sepertinya cocok sekali untukku. Bisa di bilang aku termasuk pelajar yang selalu berat ketika akan pergi belajar, kecuali saat akan menghadapi ujian saja aku “menggiatkan’ belajar.

Dengan mengucapkan, “mengapa aku malas belajar?” aku jadi berfikir keras mengenai perkara yang selama ini menyebabkan aku malas belajar. Aku sadari, ternyata penyebabnya tak lain muncul dari diriku sendiri. Itupun aku terlambat menyadarinya.

Selama ini aku menganggap semua pelajaran di sekolah tidak ada hubungannya dengan dunia yang akan aku hadapi nanti setelah aku bekerja. Aku merasa kalau apa yang di sampaikan guru di kelas itu bukanlah pendorong cepat terselesainya cita-cita.Mengapa aku malas belajar?

Bahasa inggris, aku berpikiran kalau sudah kerja nanti, tidak mungkin aku bekerja pasa satu pekerjaan yang mengharuskanku mahir Bahasa inggris. Berawal dari pola pikir seperti inilah, aku memutuskan untuk tidak mempelajari lebih dalam pelajaran Bahasa inggris.

Matematika adalah salah satu ilmu hitung yang aku pikir juga tidak di butuhkan terlalu dalam dan ahli. Contohnya dalam berdagang, yang di butuhkan hanya penjumlahan dan pengurangan yang sudah di ajarkan di bangku sekolah dasar. Bahkan, dengan alat yang namanya kalkulator, berhitung menjadi sangat mudah. Aku pikir, tidak mungkinlah disaat berdagang kita memakai rumus integral dan logaritma untuk menghitung jumlah terasi yang sudah terjual – misalnya.

Memang aku pernah mendengar sepatah motivasi dari salah satu guruku yang sampai sekarang, kata-kata tersebut masih melekat dalam pikiranku. Ia berkata:

“Dengan terbiasa mengerjakan soal matematika, maka akan terbiasa pula menyelesaikan masalah. Jalan untuk menyelesaikan soal matematika bukan hanya satu cara, tetapi banyak cara, kita di tuntut menggunakan cara yang lain jika satu cara belum bisa menyelesaikannya”.

Namun, bagaimanapun juga tugas seorang hanyalah menasehati. Tergantung pada setiap individu itu sendiri. Mau berubah atau tidak. Alhasil, aku tetap berpegang teguh pada prinsipku.

Baca Juga:  Menggapai cita-cita

Walaupun sekarang sudah mulai ada rasa menyesali dan ingin sekali memulai dari awal, tapi aku sadar jika hanya memikirkan hal itu akan membuang waktu saja. Aku ingat kata seseorang, kalau mau berubah janganlah kita menentukan waktu kapan mau berubah, tapi berubahlah dari sekarang. Ini cukup memotivasi diriku, mengingat saat itu aku tidak mempunyai keinginan lebih seperti orang lain pada umumnya, alias belajar Cuma seperlunya saja.

Aku masih mempunyai kesempatan untuk merubah diri. Aku masih berencana akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku bertekad sedikit demi sedikit menghilangkan kemalasankum aku harus giat belajar, jangan pernah terlena dengan kemalasan masa lalu. Lain waktu, aku juga berfikir akan tetap di pesantren untuk mendalami fikih.

Ada satu kisah yang aku dapatkan selama aku nyantri, namun cerita ini tidak baik untuk di teladani. Sautu malam ada dua orang santri; slamet dan supri. Si slamet mencemooh supri karena mendapat nilai ujian memalukan. Si supri tidak tinggal diam saja di ceramahi, dia membela dirinya dengan bilang ke slamet: “ Hei, slamet! Buat apa punya nilai besar, lagian lulusnya paling tetap jadi tukang sablon. Mondok itu yang penting bisa ‘khususon’, hafal doa-doa, dan bisa tahlilan. Cukup. Dengerin, ya! Hidup kita itu sudah menderita, jangan nambah penderitaan lagi dengan mikirin nilai’’.

Rupanya ceramah si supri ini ampuh. Buktinya, slamet jadi terdiam karenanya, entah diam karena merasa yang di katakan supri itu benar, atau diam karena merasa tidak mampu adu Bahasa dengan orang ‘stress’.

Prinsip seperti si supri inilah yang di anut kebanyakan santri. Mereka beranggapan kalau prestasi di pondok itu tidak penting. Yang penting menurut mereka tidak malu-maluin di masyarakat. Tentu ini adalah prinsip-prinsip santri yang gagal. Mereka enggan meningkatkan kualitas diri dan hanya akan belajar seperlunya saja. Padahal ciri-ciri orang sukses itu, mereka akan belajar bila mereka sempat, sementara orang gagal itu akan belejar ketika mereka harus.

Baca Juga:  "Pilih AKU Atau IBU MU"

Dulu aku pun seperti itu, tidak mau mempelajari sesuatu dengan seius jika belum di ketahui manfaatnya. Padahal kata orang ‘ setiap sesuatu itu pasti ada manfaatnya’. Aku terlalu egois saat itu. Aku beranggapan semua yang kulakukan itu benar, walaupun ternyata bertolak belakang dengan kebenaran yang sesungguhnya. Dan aku baru menyadarinya sekarang.

Setiap kita mempunyai masa lalu. Masa lalu itu tidak hanya untuk di kenang, tetapi untuk di jadikan pelajaran guna menghadapi masa depan. Terlambat menyadari kesalahan tentu tentu masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Ya Allah, Mohon petunjukmu.

 

Gubahan: M Sholehuddin, santri Fudc

One Response

  1. guest March 29, 2017

Leave a Reply